Namun, hingga saat ini gerakan perlawanan yang ada hanya berasal dari beberapa kelompok pejuang yang memiliki rasa tanggung jawab untuk ikut membela, bukan dari militer berskala negara
Mengapa para pemimpin Muslim itu diam saja?
Penulis apt. Siti Nur Fadillah, S.Farm.
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Muslim Palestina yang Terlunta
Lima bulan sudah agresi Israel ke Jalur Gaza, ribuan nyawa tidak bersalah melayang sia-sia. Kebrutalan zionis seolah belum sampai pada ujungnya, kezaliman terus menerus terjadi dan semakin menjadi-jadi. Setidaknya 30.320 orang terbunuh dan 71.533 terluka dalam serangan Israel sejak 7 Oktober. Lebih dari 1,4 juta warga Palestina mengungsi akibat serangan Israel, mereka berkumpul di Rafah mencari perlindungan dari ganasnya serangan. Jutaan warga tidak punya tempat berlindung, sementara jumlah truk bantuan yang masuk berkurang drastis. Tempat penampungan yang melebihi kapasitas, makanan dan air bersih habis, serta meningkatnya resiko kelaparan. Namun, kondisi yang begitu miris ini nyatanya tidak mampu menahan kebiadaban zionis. Pada Kamis (29/02/2024), ratusan warga Palestina yang sedang menunggu bantuan di dekat Dowar al-Nablusi ditembaki secara brutal. Selain itu, tenda-tenda warga di Rafah juga dibom, menewaskan 11 orang dan melukai 50 orang termasuk anak-anak. (Antaranews, 3/3/2024)
Lebih parahnya lagi, di tengah kekacauan ini apa saja yang dilakukan pemimpin negara-negara muslim? Tidak lebih dari sekedar mengecam, tanpa melakukan tindakan berarti yang dapat menghentikan kebengisan Israel. Mereka hanya mampu mengirim bantuan seadanya. Bahkan ‘bantuan’ yang dikirim pun justru membuat pilu, bagaimana tidak negara-negara Arab malah mengirimkan dua kontainer kain kafan. Innalillahi, sebegitu tidak pedulikah mereka pada Palestina. Bantuan yang sejatinya dibutuhkan Palestina adalah militer untuk mengusir penjajah. Namun, hingga saat ini gerakan perlawanan yang ada hanya berasal dari beberapa kelompok pejuang yang memiliki rasa tanggung jawab untuk ikut membela, bukan dari militer berskala negara. Mengapa para pemimpin Muslim itu diam saja?
Nasionalisme yang Merenggut Persatuan Umat
Jawaban paling tepat adalah negara-negara muslim diam saja karena mereka tidak bersatu dan terbagi dalam nation state buatan musuh Islam, sehingga tidak muncul kesepakatan konkrit untuk membantu Palestina. Kesepakatan yang dihasilkan hanya sebatas solusi dua negara atau gencatan senjata yang dangkal dan tidak solutif. Nasionalisme benar-benar menjebak mereka dalam sekat-sekat identitas negeri, hingga abai dengan saudara seiman mereka sendiri. Mereka memiliki kekuatan, tapi lebih memilih untuk disimpan demi kepentingan negeri sendiri. Mereka memiliki kekayaan, tapi negeri merekalah yang lebih diutamakan. Tak cukup sampai di sini, pemimpin negara Arab juga terang-terangan bermesraan dengan para musuh islam. Melalui lobi-lobi Amerika, negara Arab seperti Maroko, Bahrain, UEA, Sudan, Turki, Jordania, dan Mesir telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan mengkhianati Palestina. Nafsu untuk mengenyangkan perut sendiri telah membutakan mereka bahwa ada jutaan saudara mereka yang menunggu giliran untuk dibunuh.
Maka dari itu, nasionalisme merupakan salah satu tindakan paling keji yang dilakukan Barat untuk menghancurkan Islam. Khilafah Islam yang tegak berdiri selama 1400 tahun dan menguasai ⅔ dunia hancur karena ide buruk ini. Paham yang menimbulkan jurang pemisah di antara umat islam, hingga tidak ada lagi jembatan yang dapat menghubungkan. Loyalitas umat bergeser dari akidah islam menjadi loyal pada nasionalisme semata. Karena itu, nasionalisme merupakan perkara yang paling berbahaya, yang memecah belah umat, serta menimbulkan rasa permusuhan, kebencian, dan peperangan di kalangan mereka, hingga pada satu titik ingin memisahkan diri dari Khilafah. Maka cukuplah dengan gerakan untuk memisahkan diri tersebut, kekuatan umat akan terkotak-kotak. Akhirnya islam akan melemah, terputus jaringannya, dan hancur.
Menolong Palestina dengan Persatuan Umat
Jika selama ini kita selalu diarahkan mengirimkan donasi dan memboikot produk Israel, memang benar hal tersebut membantu. Namun, tidak untuk jangka panjang. Solusi yang dibutuhkan Palestina saat ini adalah persatuan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Persatuan umat untuk berjihad melawan zionis laknatullah, persatuan umat untuk mengusir Israel dari tanah suci umat Islam. Dan persatuan umat yang hakiki hanya dapat terwujud dalam naungan Khilafah Islamiyah. Khilafah seperti yang dicontohkan Rasulullah, Khilafah yang akan berperan sebagai jembatan penghubung yang memusnahkan jurang pemisah antara umat Islam. Tidak ada lagi identitas negeri-negeri buatan Barat, tidak ada lagi nation state yang berlandaskan fanatisme belaka, tidak ada lagi intervensi negara kafir yang mendominasi. Seluruh potensi umat akan berpadu dalam satu panji Islam, dengan bernafaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan begitu kejayaan Islam yang pernah berdiri 100 tahun silam akan kembali tegak dan mendominasi dunia.
Salah satu bukti betapa berpengaruhnya Khilafah dalam mengusir zionis adalah pada masa Khalifah Abdul Hamid II (1901). Meski Khilafah pada saat itu sudah mengalami kemerosotan, namun wibawa Khilafah masih terjaga. Saat itu Dr. Herzl datang untuk meminta sepetak tanah Palestina dengan membawa penawaran 50 juta Pound (setara dengan minimal 305 triliun rupiah). Berikut bonus membangun Universitas Utsmani dan kapal perang. Tidak tergiur tawaran tersebut, jawaban Khalifah Abdul Hamid II sungguh mencerminkan pemimpin yang bijak. “Nasihati Dr. Herzl, agar jangan sekali-kali lagi meneruskan proyek ini. Aku tak bisa berikan tanah itu, tanah itu bukan milikku, Tanah itu milik umat, yang telah berjihad dan telah menyiraminya dengan darah mereka, Yahudi silakan simpan uang mereka. Jika Khilafah Islam dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil tanah Palestina tanpa membayar. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku, daripada tanah itu dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islam. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup."
Meski dalam keadaan terendahnya, Khilafah terbukti tetap mampu mengusir penjajah terlaknat itu. Namun, kini ketika Khilafah tidak lagi ada, umat Islam kehilangan naungannya, umat Islam kehilangan perisainya, tidak ada lagi pemimpin yang melindungi marwah Islam. Maka hal utama yang harus kita lakukan adalah berdakwah dan bersuara tentang urgensi Khilafah sebagai wujud pertolongan untuk Palestina. Sebab diam dan meratapi kondisi saudara kita tidak akan merubah apapun. Bahkan dijelaskan, dalam sebuah tindak kejahatan, selalu dibutuhkan kerjasama dua pihak. Pertama adalah pelaku kejahatan, kedua, mereka yang mendiamkannya. Sebab sejak awal manusia mengenal tindak kejahatan, “diam” selalu dinobatkan sebagai mitra paling setia. Diam adalah sumber energi kejahatan. Hingga para ulama' mengatakan, “mendiamkan kejahatan laksana setan bisu”. Jika diam adalah mitra kejahatan, lantas bersuara adalah musuh kejahatan paling ditakuti. Maka sudah menjadi keharusan, sebagai umat dari pemimpin para nabi, umat yang memiliki banyak keutamaan, untuk senantiasa menyuarakan yang hak dan menumpas kebatilan. Terlebih untuk membela saudara sesama Muslim yang hidup dengan naungan akidah yang sama. Wallahualam bissawab. []
