Allah Swt. memerintahkan kita dalam mengonsumsi makanan dan minuman, harus halal dan tayib
Tentunya, bagi siapa pun termasuk para pengusaha, semestinya standarnya sama, halal dan tayib
Penulis Sumiati
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif
Matacompas.com, OPINI -- "Laris manis tanjung kimpul, dagangan laris duit ngumpul." Demikianlah ungkapan para pedagang, terhadap dagangan yang mereka jajakan.
Sedikit mengenang lagu dari grup Qasidah Nasidaria, yang sangat digemari pada zamannya, dan hari ini semua terbukti dan dirasakan oleh seluruh manusia.
Tahun dua ribu kerja serba mesin
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin
Makan dan minum dilayani mesin
Sungguh mengagumkan tahun dua ribu
Namun demikian penuh tantangan
Penduduk makin banyak sawah ladang menyempit
Mencari nafkah semakin sulit
Tenaga manusia banyak diganti mesin
Pengangguran merajalela
Sawah ditanami gedung dan gudang
Hutan ditebang jadi pemukiman
Langit suram udara panas akibat pencemaran
Wahai pemuda remaja sambutlah
Tahun 2000 penuh semangat
Dengan bekal ketrampilan serta ilmu dan iman
Tahun dua ribu kerja serba mesin
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin
Makan dan minum dilayani mesin
Sungguh mengagumkan tahun 2000
Namun demikian penuh tantangan
Penduduk makin banyak
Sawah ladang menyempit
Mencari nafkah smakin sulit
Tenaga manusia banyak diganti mesin
Pengangguran merajalela
Sawah ditanami gedung dan gudang
Hutan ditebang jadi pemukiman
Langit suram udara panas akibat pencemaran
Ciptaan Bukhori Masruri
Kurang lebih demikian mengutip lagu tahun dua ribu. Semua yang disampaikan dalam lagu tersebut, memang benarlah saat ini terjadi, termasuk dalam hal minuman yang banyak dikonsumsi masyarakat saat ini. Dahulu, untuk minuman manis yang dijual cukup terbatas, baik yang kemasan, mau pun yang dijajakan di pinggir jalan secara alami dan sederhana. Bahkan bisa dibilang masih cukup aman, di mana anak-anak tidak terlalu banyak mengonsumsi minuman manis, sehingga terjaga kesehatan mereka. Juga para orang tua pun demikian. Namun, saat ini, tidaklah demikian. Bahkan banyak kasus anak-anak terkena diabetes karena setiap hari mengkonsumsi minuman berasa, bahkan orang tua pun sama, makin banyak yang menderita penyakit yang disebabkan oleh minuman manis.
Terlebih, saat ini, penyediaan minuman manis makin marak, menjadi sebuah mata pencaharian masyarakat yang sangat digemari. Alhasil, dari maraknya penjual minuman manis, dari mulai pedagang kecil hingga pabrikan, menyebabkan kaum kapitalis menggeliat, bagaimana caranya agar mendapatkan keuntungan dari hal tersebut. Maka diterapkanlah pajak, dengan dalih untuk pemasukan uang negara. Otomatis, hal ini akan menambah biaya bagi para pengusaha kecil hingga besar. Hal ini, mendorong para pengusaha untuk berpikir keras, bagaimana agar keuntungan tetap stabil, dengan biaya produksi bertambah, ditambah lagi, bahan-bahan untuk membuat minuman manis itu makin melonjak harganya. Jika para pengusaha tidak pandai memutar otak, tentu akan banyak para pengusaha yang akhirnya gulung tikar.
Hal ini, mendorong para penguasa mengurangi pengeluaran dari bahan-bahan produksi minuman manis. Mulai dari mengurangi gula asli diganti dengan biang, mengganti pewarna alami menjadi pewarna buatan, bahkan menaburkan bahan pengawet, agar tidak mudah basi, yang mana semua itu sangat rentan untuk kesehatan orang-orang yang mengonsumsi minuman manis tersebut. Belum lagi mengurangi ukuran timbangannya, yang tadinya besar menjadi kecil. Hal itu terus diulik oleh para pengusaha, agar tetap mendapatkan keuntungan sebesar apa yang mereka harapkan. Terkadang, situasi dan kondisi begini, tidak diperhitungkan akibat yang akan diderita para penyuka minuman manis, mereka para pengusaha fokus, pada laba yang hendak diraih.
Lebih parahnya lagi, di saat tidak ada pengontrolan yang ketat dari penguasa. Mereka mencukupkan dengan cek awal saja, pengusaha mampu membeli logo halal, berikutnya tidak ada lagi pengecekan ulang. Sehingga perusahaan berjalan begitu saja, pajak mengalir ke penguasa, kesehatan rakyat tergadaikan. Generasi makin lemah. Orang berpenyakit akibat minuman manis makin menjamur. Sementara ekonomi masyarakat pun terus terguncang. Penanganan dari penguasa tidak tampak, solusi tambal sulam pun hanya menolong sementara, dengan adanya kartu jaminan kesehatan yang tak menjamin. Masalah demi masalah terus silih berganti. Beban hidup masyarakat terus menumpuk.
Bagaimana Islam memerintahkan umat muslim dalam mengonsumsi makanan dan minuman? Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ - ١٦٨
Artinya: "Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata."
Demikianlah Allah Swt. memerintahkan kita dalam mengonsumsi makanan dan minuman, harus halal dan tayib. Tentunya, bagi siapa pun termasuk para pengusaha, semestinya standarnya sama, halal dan tayib. Namun, begitulah manusia, terkadang fokus pada keuntungan diri sendiri dan mengabaikan hak orang lain. Dalam hal ini, para pengusaha membutuhkan kontrol yang ketat dari penguasa, mengurus mereka sesuai ketentuan dari Allah Swt. bukannya justru malah mencari untung dari rakyatnya sendiri. Tentu saja, hal ini tidak akan terjadi dalam sistem kapitalis. Pengurusan yang tepat dan serius, hanya akan ditemukan dalam sebuah negeri yang menerapkan sistem Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah. Untuk itu, mendakwahkan Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan, menjadi sebuah kewajiban yang tak mungkin diabaikan. Sehingga keamanan dari berbagai sisi, dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Wallahualam bissawab. []
