Islam sebagai ideologi memiliki seperangkat mekanisme dalam menyejahterakan rakyatnya
Mulai dari level individu sampai level negara
Penulis Santika
Pejuang Syariah
Matacompas.com, OPINI -- Di awal tahun 2024 warga Indonesia mendapatkan kado pahit yaitu dengan naiknya sejumlah bahan pokok. Mulai dari kenaikan beras, telur, listrik dan berbagai bahan pokok lainnya. Hal ini membuat menurunnya daya beli masyarakat, akhirnya berimbas pada angka kemiskinan yang kian meningkat.
Ibarat menanam padi tetapi tumbuh ilalang, keadaan ini justru berbanding terbalik dengan target pemerintah yang optimis akan berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrem 0% - 1% pada tahun 2024. Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan kepada suarasurabaya.net pada senin, 24 Februari 2024 bahwasanya target yang dikeluarkan pemerintah melalui instruksi Presiden No.4 tahun 2020 tentang percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem dengan target 0% - 1% akan sulit dicapai. Menurut Yanu (peneliti Ahli Muda Psat Riset Kependudukan, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Bank Dunia telah merevisi garis kemiskinan ekstrem dari US$1,90 menjadi US$ 2,15 per kapita per hari. Dengan menggunakan angka US$ 2,15 per kapita per hari maka pemerintah kemungkinan hanya dapat menurunkan angka kemiskinan ekstrem di level 2,5% artinya semakin jauh dari target nol persen pada tahun 2024. Ini berarti ketika standar hidup mengikuti perhitungan bank dunia maka jelas sudah semakin sulit untuk mengurangi angka kemiskinan ekstrem. Belum lagi kendala yang dihadapi mulai dari program bansos yang tidak tepat sasaran serta lapangan kerja yang semakin sempit menambah daftar kesulitan yang makin menghimpit masyarakat.
Kemiskinan ekstrem mau tidak mau akhirnya berdampak pada nasib generasi penerus bangsa. Anak-anak pun terkena imbasnya, akibat banyaknya problem yang dihadapi sehingga memengaruhi akan berpengaruh di masa depannya. Mulai dari gizi buruk, terpaparnya penyakit, putus sekolah, bekerja di usia dini, kriminilitas dan masih banyak hal lainnya. Semua itu dilakukan hanya untuk bertahan hidup.
Di sisi lain kebijakan sosial di negara ini hanya sebatas kebijakan tambal sulam saja, seolah-olah membuat sejahtera tetapi hanya sekejap mata. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan merupakan produk sistem kapitalisme, yang tentunya cenderung menguntungkan kepada pemilik modal dan para penguasa. Kapitalisme telah melahirkan asas kebebasan yang membuat para kapital bebas menguasai ekonomi termasuk menguasai sumber daya alam. Padahal sumber daya alam seharusnya menjadi sumber penghasilan negara demi mensejahterakan rakyatnya dalam berbagai bidang baik pangan, papan, maupun sandang, termasuk ketersediaan infrastruktur.
Begitulah sistem kapitalisme jika diterapkan dalam kehidupan akan membuat kekacauan dan hilangnya kesejahteraan. Berbeda dengan sistem Islam. Islam sebagai ideologi memiliki seperangkat mekanisme dalam menyejahterakan rakyatnya. Mulai dari level individu sampai level negara.
Dari segi individu, Islam mewajibkan kaum laki-laki dewasa dan sehat untuk mencari nafkah dengan cara yang halal. Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan. Di level masyarakat, Islam akan memupuk keimanan sehingga masyarakat berlomba-lomba dalam berinfak.
Maka, dengan dana yang terkumpul bisa menjadi subsidi silang bagi rakyat miskin yang membutuhkan. Dua level ini masih belum cukup menyelesaikan permasalahan kemiskinan ekstrem, jika negara masih bersikap hanya sebagai regulator. Namun Islam telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang penguasa yang memimpin negara.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepemimpinan pada seorang hamba lalu ia mati padahal ia telah menipu, melainkan Allah mengharamkan kepadanya surga." (HR Imam Ahmad)
Dengan keimanan maka para penguasa akan menjalankan amanahnya guna mensejahterakan rakyatnya dan menuntaskan problematika kemiskinan ekstrem. Negara akan mencari cara bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan, dengan memperbanyak usaha sektor riil baik di bidang jasa, industri maupun pertanian. Negara juga akan mencegah praktik monopoli dan kecurangan-kecurangan ekonomi dan menghilangkan praktik ribawi, judi, penipuan dan praktik menimbun barang. Islam menyiapkan sistem sanksi bagi para penguasa yang curang dan tidak amanah. Negara akan mengelola sumber daya alam guna kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda:
"Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, air, padang gembalaaan dan api. Menjualnya adalah haram.” (HR. Ibnu Majah)
Begitulah Islam dalam mengatasi kemiskinan ekstrem. Sehingga kemiskinan tidak akan lagi menjadi faktor yang akan menghancurkan generasi di masa yang akan datang.
Wallahu’alam bissawab. []
