Sejatinya meski harga gabah naik, tetap saja biaya operasional petani sangat tinggi
Saat ini harga pupuk mahal, sebab subsidi pupuk sudah tidak ada lagi, obat-obatan dan tenaga petani juga mahal ditambah keperluan hidup pun serba mahal
Penulis Verawati
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- "Mau puasa, mau lebaran harga beras mahal banget." Begitu salah satu curhat ibu-ibu di warung sayur. Ya, para ibu rumah tangga menjerit dengan kenaikan harga beras. Ya, ibu-ibu memang paling merasakan dampak setiap kenaikan bahan makanan terlebih beras sebagai makanan pokok. "Minimal ada nasi dah, lauk pauk, mah, gampang". Namun kini nasi pun sulit dihidangkan karena harganya mahal.
Di tengah kondisi perekonomian sedang lesu dan berbagai komoditas pangan naik, harga beras pun di pasaran naik tinggi.
Kenaikan harga beras benar-benar dirasa sangat berat. Wajar hal ini karena kebaikan beras mencapai 20% dibandingkan harga sebelumnya. Kemungkinan turun pun rasanya sulit, ini dibenturkan dengan harga gabah dari petani.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, jika harga beras kembali turun. Ke level Rp10.000 per kg untuk beras medium, maka petani menangis, karena otomatis harga gabah akan tertekan ke bawah lagi. Menurutnya dengan harga beras saat ibu petani sedang berbahagia, karena setidaknya pada petani bisa bernafas sejenak dengan harga gabah yang tidak ditekan mudah. (cnbcindonesia, 24/01/2024)
Namun, benarkah demikian? Sejatinya meski harga gabah naik, tetap saja biaya operasional petani sangat tinggi. Saat ini harga pupuk mahal, sebab subsidi pupuk sudah tidak ada lagi, obat-obatan dan tenaga petani juga mahal ditambah keperluan hidup pun serba mahal.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan jika petani tidak bisa menikmati kenaikan harga beras yang terjadi saat ini. Menurut dia, harga beras yang mahal sekarang ini merupakan akibat dari harga beras yang dijual korporasi jauh dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang seharga Rp 5.000, yang kemungkinan dibeli saat musim panen raya.
Kenaikan ini sendiri sejatinya tidak dinikmati oleh para petani. Sebab saat harga beras naik atau gabah naik, para petani belum panen. Hal ini ungkap oleh Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Finance INDEF, Rusli Abdullah mengatakan kenaikan harga beras paling sering terjadi di tingkat pedagang besar dan pasar tradisional. Keduanya mencatatkan peningkatan harga yang lebih tinggi ketimbang di tingkat petani atau pun di pasar moderen. Selain tren harga beras naik, Rusli juga menyoroti besaran margin atau keuntungan yang diambil di setiap lini. Ternyata, keuntungan paling besar dinikmati oleh pedagang besar. (Liputan6, 23/11/2023)
Jadi sangat jelas, bahwa dalang dari kenaikan harga beras adalah para kartel atau cukong beras. Artinya distribusi beras sudah dikuasai oleh pihak swasta dan negara tidak mampu mengendalikan harga beras. Meski berkali-kali Indonesia melakukan impor beras.
Selain itu, ada hal yang berpengaruh dalam kebaikan harga. Yaitu adanya perdagangan bursa komoditi di bursa saham. Artinya ada permainan spekulasi dibursa efek. Padahal secara fakta beras atau komoditi pangan tersedia dengan cukup. Tapi akibat adanya spekulan para trader harga beras menjadi mahal.
Dalam sistem kapitalis perdagangan non riil semacam ini memang dibolehkan bahkan menjadi semacam jantungnya perekonomian yaitu ribawi. Tak lagi memikirkan nasib manusia jutaan atau miliaran nyawa, mereka hanya meraup keuntungan semata.
Demikianlah kehidupan jika diatur dengan sistem kapitalisme. Peran negara dimarginalkan, justru yang berkuasa adalah pemodal besar. Pengurusan negara sebagai pengurus rakyat termasuk beras dari mulai pengadaan hingga pendistribusian ke individu per individu tidak akan pernah terwujud. Seperti auto pilot, rakyat berjuang menghidupi diri sendiri, kalau tidak mampu maka akan mati sendiri.
Berbeda dengan sistem Islam. Dari sisi ekonominya menerapkan ekonomi berbasis real, tidak diperbolehkan ada unsur riba dalam setiap transaksi. Negara akan menyediakan pangan tersebut dengan berbagai cara. Mulai dari pengelolaan pertanahan, menyediakan bibit atau modal, mewujudkan berbagai industri yang mendukung pertanian hingga pengaturan pendistribusian ke individu per individu rakyat.
Semua akan bisa diupayakan karena penguasa dalam Islam adalah pengurus. Penguasa adalah bertanggungjawab urusan rakyat. Pertanggungjawabannya besar di hadapan Allah kelak. Tidak akan dibiarkan satu orang pun mengalami kelaparan. Bahkan rakyat akan hidup makmur hingga tidak ada lagi yang menjadi orang yang layak menerima zakat. Sebagaimana masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz.
Wallahualam bissawab. []
