Saat ini rumah tak lagi menjadi tempat yang ramah bagi anggota keluarga. Keluarga tak lagi menjadi tempat ternyaman bagi anggota keluarga, khususnya anak-anak
Betapa banyak kasus kriminal justru terjadi di lingkungan keluarga dan dilakukan oleh orang terdekat
Oleh Bunda Hanif
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Kisah tragis menimpa keluarga di Dusun Borobugis, Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang pada Selasa (12/12/2023), tiga anggota keluarga ditemukan tidak bernyawa di rumah mereka dan menyisakan satu anak. Dugaan sementara, para korban meninggal lantaran mengakhiri hidupnya sendiri. (Muslimahnews, 18/12/2023)
Kisah di atas bukanlah kali pertama. Publik masih terhenyak dengan kisah pembunuhan yang dilakukan Panca pada Ahad, 3/12/2023, seorang ayah yang tega membekap empat anaknya selama 15 menit hingga tewas. Ia melakukan hal tersebut setelah menganiaya istrinya, Devnisa Putri (27) sehari sebelumnya. Akibat perbuatan pelaku, Devnisa sampai dirawat di RSUD Pasar Minggu. (Kompas, 9/12/1/2023)
Kasus rumah tangga yang berujung tragedi makin marak akhir-akhir ini. Tentu saja menyisakan banyak tanya, ada apa dengan kondisi rumah tangga hari ini? Apakah kasus-kasus tersebut disebabkan oleh faktor individu semata? Atau ada faktor lain yang menjadi pemicunya?
Rumah Tak Lagi Ramah
Keluarga adalah institusi terkecil dari suatu peradaban. Seharusnya keluarga merupakan tempat yang melahirkan kebahagiaan, ketentraman dan kedamaian. Kebahagiaan ini, seharusnya bisa dirasakan oleh suami istri sampai anak keturunan mereka.
Masing-masing anggota keluarga harus saling memahami hak dan kewajibannya agar tercipta ketentraman di lingkungan keluarga. Suami melaksanakan peran dan kewajibannya dengan baik. Memenuhi hak istri dan anak-anaknya. Seorang istri pun demikian, berbakti kepada suaminya dan menjalankan perannya sebagai ibu dengan sebaik-baiknya. Anak-anak pun wajib memiliki adab dan berbakti kepada kedua orang tua.
Di dalam keluarga, ayah sebagai pemimpin keluarga harus memastikan semua kebutuhan anggota keluarganya tercukupi. Selain itu, pemimpin keluarga juga memberikan dukungan emosional, mendidik, melindungi dan mencari nafkah. Sedangkan seorang istri, ia senantiasa menjadi penenang kala suami menemui kendala dalam menjalankan kewajibannya dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan suaminya.
Sayangnya, realitas ini sulit terwujud saat ini. Rumah tak lagi menjadi tempat yang ramah bagi anggota keluarga. Keluarga tak lagi menjadi tempat ternyaman bagi anggota keluarga, khususnya anak-anak. Betapa banyak kasus kriminal justru terjadi di lingkungan keluarga dan dilakukan oleh orang terdekat.
Agar anggota keluarga dapat menjalankan perannya masing-masing, dibutuhkan ketakwaan masing-masing individu. Ketakwaan inilah yang mampu menyatukan pemahaman anggota keluarga dan mencetak generasi yang hanya takut pada Allah Taala.
Individu yang bertakwa akan senantiasa ikhlas dan rida tatkala cobaan mendera rumah tangga. Seorang suami, istri, maupun anak sama-sama menciptakan atmosfer keimanan di tengah keluarga. Mereka senantiasa mengintegrasikan keimanannya dalam menjalankan perannya di tengah keluarga.
Individu bertakwa tidak lahir begitu saja melainkan ada proses edukasi dan dakwah yang terlaksana di tengah masyarakat. Keluarga pun memiliki peran yang penting dalam membentuk individu yang bertakwa.
Namun di tengah sistem sekuler hari ini, sulit mewujudkan individu-individu yang bertakwa. Jikapun ada, di luar ada banyak badai yang bisa menerjang rumah tangga. Entah karena aspek ekonomi, sosial, pendidikan dan lainnya. Karenanya, penting untuk menghadirkan Islam sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi semua permasalahan yang diakibatkan oleh sistem sekuler hari ini.
Islam sebagai Satu-satunya Sistem yang Kondusif
Di dalam Islam, negara berupaya untuk mewujudklan iklim kondusif bagi rumah tangga melalui seperangkat mekanisme yang sesuai dengan aturan Islam. Keluarga tidak hanya sejahtera, tetapi harus terbebas dari perilaku negatif. Mekanisme yang diterapkan di antaranya :
Pertama, memberikan edukasi secara bertahap. Untuk menyiapkan individu bertakwa yang siap mengarusngi rumah tangga harus dimulai sejak usia prabalig, balig, hingga siap memasuki jenjang pernikahan.
Kedua, menciptakan mekanisme pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga yang kondusif. Salah satu problem rumah tangga yang mendominasi hari ini adalah problem ekonomi. Alhasil, negara wajib membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar para wali atau kepala rumah tangga dapat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Negara selalu berupaya menciptakan iklim yang kondusif bagi terciptanya rumah tangga produktif dan berkualitas.
Ketiga, mewujudkan masyarakat yang terikat dengan pemikiran, perasaan dan aturan yang sama agar tercipta kepedulian antar sesama. Terdapat aktivitas amar makruf nahi munkar dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.
Dengan ketiga mekanisme tersebut, niscaya kehidupan rumah tangga dapat berjalan dengan kondusif. Rumah akan selalu ramah bagi setiap anggota keluarga khususnya anak-anak. Kita seharusnya memahami bahwa problem mendasar hari ini bersifat sistemis. Tidak perlu mencari siapa yang salah, karena sejatinya semua kerusakan rumah tangga terjadi karena sistem yang salah. Islamlah satu-satunya sistem dan solusi yang tepat untuk mengakhirinya. Tentunya dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mewujudkan keluarga sejahtera.
Wallahualam bissawab. []
