Pemikiran-pemikiran asing inilah yang menjauhkan anak-anak bangsa dari Islam
Pemikiran-pemikiran dangkal inilah yang menjadikan bunuh diri sebagai solusi atas tekanan masalah yang dihadapinya
Penulis Sri Yana
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Pemerintah mencatat, setidaknya ada 20 kasus bunuh diri anak-anak sejak Januari 2023. Hal itu disampaikan oleh Nahar selaku Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (rri[dot]co[dot]id, 11/11/2023).
Nyata, kian hari kasus bunuh diri anak makin marak saja, bukan hanya terjadi pada orang dewasa. Yang lebih mengenaskan, bagaiamana mungkin anak-anak sudah berpikir untuk bunuh diri? Padahal umumnya anak-anak masih berpikir kanak-kanak, mudah marah, mudah ngambek, mudah menangis, tetapi mudah baik kembali. Yang baru saja berkelahi dengan temannya, beberapa menit kemudian bahkan sudah akur kembali.
Masa anak-anak sejatinya dipenuhi kegembiraan. Berbeda dengan orang dewasa yang rumit memikirkan masalah hidup, ekonomi, anak-anak, bekerja, dan lain-lainnya. Namun, mengapa generasi saat ini rentan terkena mental illness bahkan nekat bunuh diri?
Sebutlah, kasus bunuh diri anak yang terjadi di Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Seorang anak SD nekat mengakhiri hidupnya karena handphone yang dipakainya diambil ibunya. Sang ibu mengambil handphone-nya karena sudah terlalu lama bermain. (detik, 23/11/2023)
Miris, hanya karena handphone diambil ibunya, lalu ngambek dan mengunci pintu di kamar. Si anak di dalam kamar nekat gantung diri. Sungguh setipis tisu mental generasi saat ini. Padahal sangat umum terjadi jika seorang ibu mengambil hp anak karena terlalu lama bermain.
Di sisi lain, pemberitaan ini menjadikan orang tua waspada dan sebagai pelajaran agar dapat bersikap lebih makruf kepada anak. Lebih dekat kepada anak agar anak bisa bercerita masalah yang dihadapinya. Meskipun mereka anak-anak, tetapi mereka adalah manusia yang memiliki perasaan. Terkadang orang tua tanpa sadar menjadikan dirinya sebagai hakim atau polisi bagi anak-anaknya. Padahal anak-anak juga ingin dimengerti dan dipahami, bukan dihakimi atau disalahkan.
Terkadang orang tua tanpa sadar menghakimi, menyalahkan, bahkan membanding-bandingkan anak-anak yang dapat berakibat fatal bagi mentalnya. Terlebih lagi jika dilakukan berulang-ulang sehingga menghasilkan mental illnes yang menjangkiti generasi saat ini. Tanpa disadari timbul luka batin yang sering dialami si anak. Meskipun kadang anak paham yang dilakukannya salah, tetapi perlakuan yang diterimanya berlebihan akan membekas sampai dewasa.
Sejatinya, penting bagi orang tua memberikan nasihat dengan baik agar anak paham, bukan menghakimi apalagi marah-marah. Di samping itu, perlunya orang tua untuk paham ilmu parenting agar dapat memahami tumbuh kembang anak dengan baik. Dengan begitu, anak-anak menjadi generasi khoiru ummah, bukan generasi setipis tisu yang mudah putus asa.
Generasi dambaan umat seperti generasi terdahulu yang terdapat dalam firman Allah Swt.,
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (TQS. Ali Imran [3]: 110).
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa anak-anak kita merupakan generasi terbaik (khoiru ummah). Namun, sekarang label khoiru ummah makin terkikis akibat dari generasi yang memiliki mental illness. Dari anak-anak sampai tingkat mahasiswa ada banyak kasus bunuh diri. Padahal mereka merupakan generasi penerus bangsa, apalagi mahasiswa adalah orang-orang yang memiliki intelektual tinggi.
Hal tersebut dapat terjadi karena akidahnya kurang menjasad dalam dirinya. Terlebih lagi sistem kapitalisme yang sudah mengakar di dalam pemikiran umat saat ini. Generasi muda pun sudah tercekoki dengan gaya hidup yang liberal. Sehingga menghasilkan generasi setipis tisu yang mudah dirobek-robek oleh pemikiran-pemikiran Barat yang melenakan sesaat.
Pemikiran-pemikiran asing inilah yang menjauhkan anak-anak bangsa dari Islam. Pemikiran-pemikiran dangkal inilah yang menjadikan bunuh diri sebagai solusi atas tekanan masalah yang dihadapinya. Solusi yang kelak juga akan dipertanggungjawabkan orang tua di hadapan pengadilan Allah Swt.. Sebab, sejatinya anak-anak yang belum balig merupakan tanggung jawab orang tuanya.
Sejatinya, umat harus kembali kepada Islam. Kembali menerapkan aturan Islam. Aturan yang diturunkan Allah Swt. Sebuah aturan yang berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunah. Sebab, Islam adalah aturan yang hakiki yang mampu menjadikan generasi terbaik, yaitu generasi-generasi Islam yang menorehkan tinta emas peradaban, seperti Muhammad Al Fatih dan Shalahuddin Al Ayyubi. Wallahualam bissawab. [MDEP]
