Paradigma kebebasan untuk menentukan kehidupannya sendiri, yakni tidak lagi memikirkan memiliki anak yg saleh dan salehah sebagai penerus generasi Islam berkualitas dan tidak lagi memandang kesakralan pernikahan (dalam arti lebih memilih sekolah tinggi dan karir) terjadi bukan tanpa sebab
Mengapa terjadi pergeseran paradigma pemikiran dan identitas muslimah?
Penulis Riskia Setiarini, S. S., M. Hum
Pegiat Literasi
Matacompas.com, Opini -- Serangan budaya global yang diaruskan, kini telah merusak identitas kaum Muslim, khususnya kaum perempuan yaitu sebagai seorang muslimah. Wanita muslimah saat ini jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka, pada umumnya, seperti wanita-wanita Barat. Mereka tidak lagi berorientasi akhirat, mereka justru lebih mengejar materi, dengan jalan: tidak lagi memandang bahwa menjadi ibu rumah tangga, sekaligus menjadi pendidik anak saleh-salehah sebagai cita-cita kehidupan. Akhirnya, cukup wajar jika kita dapati fakta bahwa wanita muslimah mengulur waktu pernikahan, demi sekolah dan atau karir.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir, tren pernikahan di Indonesia terus turun, pada tahun 2022 angka pernikahan yakni sebanyak 1,7 juta, sedangkan ditahun sebelumnya adalah 1,79 juta. Terakhir kali angka pernikahan mencapai angka yang tinggi yaitu pada tahun 2011, yaitu sebanyak 2,31 juta pernikahan. Data BPS juga menunjukkan bahwa persentase pemuda (baik laki-laki maupun perempuan) yang belum menikah di Indonesia, per 2022, mencapai 64,56% dari total 65,82 juta pemuda (atau 24% dari total populasi) secara nasional. Angka ini naik 3,47% dibandingkan setahun sebelumnya yang sebesar 61,09%. Hanya ada 34,33% pemuda yang sudah menikah di negeri ini pada 2022. Angka ini menurun 3,36% dari tahun 2021 yang semula 37,69%. Mayoritas atau 76,68% pemuda yang belum menikah berasal dari Jakarta.
Sementara itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Usia perempuan menikah cenderung semakin delay alias mundur. Rata-rata usia perempuan menikah sekarang 22 tahun ke atas. Padahal tahun-tahun sebelumnya, terutama sebelum tahun 2020, perempuan menikah pada usia 22 tahun kebawah. Perubahan arah pandang wanita muslimah tidak hanya sebatas mengundur usia pernikahan atau mungkin memilih hidup mandiri karena kecukupan ekonomi, wanita muslimah juga enggan memiliki banyak anak ketika sudah menikah. Data BKKBN mencatat bahwa rata-rata perempuan hanya praktis melahirkan satu anak perempuan.
Di sisi lain, bahkan wanita muslimah juga memiliki pandangan seperti wanita Barat, yakni childfree (tidak ingin memiliki anak setelah menikah). Keinginan perempuan Indonesia untuk childfree cukup besar. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) presentase perempuan childfree sampai saat ini (tahun 2023) hingga 8% atau sekitar 71 ribu org. (bigdata[]bps[]go[]id/).
Paradigma kebebasan untuk menentukan kehidupannya sendiri, yakni tidak lagi memikirkan memiliki anak yg saleh dan salehah sebagai penerus generasi Islam berkualitas dan tidak lagi memandang kesakralan pernikahan (dalam arti lebih memilih sekolah tinggi dan karir) terjadi bukan tanpa sebab. Mengapa terjadi pergeseran paradigma pemikiran dan identitas muslimah?
Cengkeraman Arus Liberalisasi dan Sekulerisasi yang Merusak Indentitas Muslimah Melalui Global Culture dan Pop Culture
Hakikat Global Culture dan dampaknya
Global Culture (untuk selanjutnya, disingkat GC) dari dari Eropa dan Amerika Utara, yang menyebar melalui globalisasi. GC ini menekankan pada membangun kekayaan dan mendapatkan uang untuk membeli barang dan level konsumsi tingkat tinggi. Artinya, kesuksesan itu dipandang dari jumlah uang yang diperoleh dan berapa banyak materi yang dimiliki. Adapun teknologi, trend, dan fashion juga sangat penting dan bagian dari perilaku konsumeris (studysmarter[]co[]uk).
Pengaruh Global Culture, mencakup:
1. Cultural Diffusion
Transfer, pengadopsian dan penggabungan kultur, hegemoni yang ditransfer tersebut biasanya sangat halus, misal melalui film-film dan kebijakan
2. Cultural Homogenisation
Disebut juga Americanisation, reduksi keragaman menuju keseragaman dalam nilai, penampilan, makanan, musik, adat ide dan produk fisik, upaya ini mengaruskan agar berkiblat pada Barat dalam memandang segala hal
3. Cultural Erosion
Kehilangan tradisionalitas dalam nilai, penampilan, makanan, musik, adat, ide dan produk fisik,yang ada hanyalah modernisasi ala Barat, karena nilai-nilai tradisionalis telah berusaha dihilangkan.
Global Culture adalah penetrasi budaya Barat (budaya dominan) dengan budaya di bawahnya (budaya yang lebih lemah), karena sejatinya yang dimaksud ‘global’ adalah Barat (negara pengusung Liberalisme-Kapitalistik). Hal ini karena Barat merupakan pusat peradaban saat ini, pusat pengetahuan, sebagai pusat produsen yang akan menciptakan budaya baru. Memang secara praktis, Barat benar-benar berada di pusat peradaban dan dia dalam sistem kasta, artinya Barat itu superior yang membawahi budaya inferior.
Tiga pengaruh GC sebagaimana disebutkan sebelumnya, menghasilkan fakta-fakta di sekitar kita, misal: operasi plastik, operasi kelamin, konsumsi barang-barang branded, menghabiskan tabungan untuk liburan ke luar negeri, jual barang untuk beli tiket konser, diet berlebihan untuk bentuk badan ideal, suntik kolagen atau sejenisnya untuk mendapatkan kulit lebih putih dan segar, seringa makan-minum di café mewah, terjerat kredit demi kendaraan mewah, pamer kekayaan (flexing), menyuap demi pekerjaan bagus, prostitusi untuk gaya hidup, melakukan segala cara demi uang di sosial media, dan lain-lain. Semua ini terjadi karena perubahan orientasi masyarakat saat ini, yaitu mendapatkan materi.
Masuknya Global Culture ini seiring dengan arus globalisasi. Perkembangan teknologi dan ekonomi serta politik mendorong negara Barat sebagai negara dengan ideologi dominan menyebarkan pengaruhnya kepada negara-negara dengan ideologi tidak dominan. Oleh karenanya, globalisasi tidak hanya berpengaruh pada transfer teknologi, politik dan ekonomi, tetapi juga pada invasi budaya. Nilai-nilai Sekulerisme, Liberalisme, Materialisme, dan Hedonisme yang dibawa Barat lambat laun masuk ke negara-negara muslim, diantaranya Indonesia. Paham ini masuk dan mencengkeram pemikiran wanita muslimah setahap-demi setahap, dari awalnya cultural diffusion, menjadi cultural homogenization, hingga akhirnya menjadi cultural erosion. Kabar ini sudah jauh diberitakan dalam hadis berikut:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، فَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ “ ، قَالُوا : مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: “ فَمَنْ إِلا هُمْ ”
Sungguh kalian akan benar-benar mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhabb (sejenis kadal yang hidup di padang pasir), niscaya kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”
(HR. Bukhari, No.7320, Muslim No.2669)
Jadi, tidaklah heran jika wanita muslimah kehilangan identitas sebagai muslimah, karena perilaku yg mengikuti budaya global. Dalam kaitannya dengan Islam, budaya Global ini meghasilkan pencampuran antara budaya global populer dengan (budaya) Islami, yaitu Pop Culture dalam budaya Islami dapat kita temukan dalam fenomena seperti Hijrah instant, termasuk saleh/salehah instant. Saat ini, banyak kalangan anak muda yang hijrah instant, shalih/ salehah secara instant. Artinya, mereka belajar agama sedikit atau sebentar, tetapi mereka merasa sudah menjadi orang saleh/salehah. Mereka secara langsung atau tidak langsung mengikrarkan diri sebagai public figure dan menjadi panutan.
Fenomena lain yang sejenis adalah “Casing over content” dalam ber-Islam. Artinya, beragama lebih kepada performance atau penampilan fisik luar (cara berpakaian dan ciri fisik, contohnya: kalangan laki-laki dengan jenggot dan pakaian gamis dan sorban; perempuan berhijab syar’i bahkan bercadar). Fenomena pencampuran antara Islam dengan budaya global merupakan tanda degradasi pemahaman Islam di kalangan generasi muslim. Hal ini disebut degradasi, karena:
1. Islam yang dipopulerkan di media sosial atau platform Pop Culture adalah Islam yang bisa diterima oleh khalayak ramai;
2. Islam yang ditampilkan adalah Islam permisif terhadap budaya di luar Islam, seperti: konser-konser penyanyi dunia, group band, kompetisi/ ajang bakat, dsb.
Jika kita telaah, Pop Culture di masa jahiliyah tidak ada perbedaan dengan Pop Culture di masa sekarang itu, yang berbeda adalah luarannya saja, yakni sarana dan prasarananya. Jadi, Pop Culture saat ini sama dengan budaya jahiliyah jaman dahulu. Lalu, Islam datang sebagai gagasan baru yang besar dan berwibawa tinggi, yang bertolak belakang dengan Pop Culture saat itu. Para pemuda saat itulah yang menjadi kelompok terbesar yang tertarik dan bersungguh-sungguh menerima Islam dan meninggalkan Pop Culture jahiliyah yang rusak.
Mengembalikan Identitas Muslimah dengan Islam
Adapun solusi dalam rangka mengembalikan kembali identitas muslimah, yaitu dengan jalan:
1. Bervisi Islam
Dengan visi Islam, kepribadian muslimah akan terbangun menjadi visioner, berkesadaran politik, dan kontributif untuk umat dalam kerangka takwa sebagai makhluk Allah Swt. yang sadar akan tujuan hidupnya.
2. Memahami bahwa seorang muslimah memiliki 3 dimensi dalam kehidupannya.
Dalam dimensi waktunya membuat Muslimah berdaya menjadi visioner, sedangkan pada dimensi ruang membuat Muslimah berdaya dengan kesadaran politik dan melek politik internasional, dan dalam dimensi peran membuat mereka makin berdaya untuk umat dengan peran komunalnya.
3. Menjaga identitas muslimah, dengan 2 jalan:
a. Mengetahui penyebab dirongrongnya identitas muslimah oleh Barat, diantaranya:
- Barat mereformasi pemikiran dan identitas muslimah untuk menghancurkan dan mencegah khilafah eksis kembali karena dalam masyarakat Islam perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat dan pendidik generasi masa depan.
- Barat menjerat hati dan pikiran mereka menjadi penting dalam rangka menset ulang mentalitas dan mindset masyarakat muslim
- Jika berhasil membuat muslimah menghina dan menolak syariat dan menjadikannya sebagai musuh perempuan, Barat bisa menciptakan penentang gigih melawan pemerintahan Islam (Khilafah)
- Di saat yg sama Barat bisa melengkapi keberhasilannya dengan menjadikan muslimah melihat identitas Barat dan sistemnya sebagai jalan menuju pembebasan, keselamatan & kesejahteraan perempuan sehingga para muslimah menjadi duta tsaqofah barat & aturan sekuler liberal
- Narasi yg dikembangkan Barat: Islam beserta aturannya menindas perempuan sehingga mendorong muslimah untuk meninggalkan loyalitas kepada syariat dan berpindah pada adopsi sistem Kapitalisme agar menjadi /nampak modern dan beradab.
b. Mengetahui solusi teoritis dan praktis dalam menjaga identitas muslimah, berupa:
- Qana’ah pada pembagian peran yang sudah ditetapkan Allah Swt.
- Mencabut pemahaman, standard, dan keyakinan (M2Q) yang tidak bersumber dari ideologi Islam
- Memahami strategi global dalam menghancurkan peran mulia perempuan dan menyebarluaskan sekulerisme dan liberalisme ke seluruh penjuru dunia
- Meyakini bahwa kemuliaan perempuan hanya terwujud ketika mengikuti ketetapan syariah, bukan dengan mengikuti pemikiran feminis ataupun pemikiran Barat lainnya
- Terlibat dalam perjuangan penegakkan Khilafah yang akan menerapkan Islam kaffah dan memuliakan perempuan.
“Kita adalah umat yang pernah hina dan lemah, lalu Allah menguatkan dan memuliakan kita dengan Islam. Kalau kita mencari kemuliaan selain dengan agama ini Allah akan menghinakan kita” (Umar bin Khattab).
Wallahualam bissawab. []
