Sebab walaupun mereka mampu untuk melawan, mereka akan tetap memilih slow demi keamanan negara mereka masing-masing
Itulah egoisnya para pemimpin dalam sistem Kapitalisme, sulit menjadi penolong bagi negara lain yang sedang disiksa sebab mereka hanya mengutamakan keselamatan untuk negaranya dan dirinya sendiri, padahal yang sedang dijajah saat ini adalah saudara dalam Islam.
Penulis Rismawati Aisyacheng
Pegiat Literasi dan Member AMK
Matacompas.com, OPINI -- Palestina adalah sebuah negara yang tanahnya diberkahi oleh Allah Swt. yang di dalamnya terdapat pusat yang menjadi kiblat pertama kaum Muslim yaitu masjid Al-Aqsa. Negara Palestina bukan hanya disucikan oleh kaum Muslimin saja tetapi tanah itu juga disucikan oleh dua agama lain yaitu Nasrani dan Yahudi. Karena di sana selain menjadi kiblat pertama kaum muslim, tanah Palestina juga adalah tanah yang dijanjikan menurut agama Yahudi yang mereka ambil dari kitab-kitab mereka. Sedangkan bagi Nasrani sendiri Palestina adalah tempat perjamuan terakhir Yesus sebelum dikhianati oleh Yudas Iskariot menurut kepercayaan Nasrani.
Kesucian tanah Palestina mengundang kebengisan pada jiwa-jiwa manusia yang serakah. Lihatlah bertahun-tahun sudah Palestina dijajah oleh negara tetangga yaitu negara zionis Israel. Tak tanggung-tanggung mereka membombardir tanpa henti hingga kini penduduk Palestina yang meninggal mencapai sembilan ribu jiwa akibat kebengisan kaum Zionis Israel. Seolah nyawa tak berarti, hingga dengan ringannya tangan-tangan mereka meluncurkan roket-roketnya ke tanah Palestina, tanpa peduli dengan anak-anak yang tak berdosa itu.
Dilansir oleh news[dot]detik (03/11/2023) bahwa sejak serangan yang terjadi di tanggal 07 Oktober lalu, Israel terus-menerus menyerang Palestina hingga saat ini. Alhasil telah tercatat 9.061 jiwa korban yang tewas di Jalur Gaza akibat serangan yang membabi-buta. Dari jumlah korban yang tewas tersebut, tercatat 3.760 jiwa anak-anak yang tak berdosa, serta perempuan 2.326 jiwa. Adapun yang terluka mencapai 32.000 jiwa.
Sungguh malang kian nasib rakyat Palestina. Hari demi hari berlalu, jiwa-jiwa yang tak berdosa itu kian bertambah banyak yang telah dilenyapkan oleh tangan-tangan biadab pasukan Israel. Namun sungguh nahas, para pemimpin negara di seluruh dunia seolah diam seribu bahasa dalam genggaman pemimpin kapitalis terbesar di dunia. Ketundukan pemimpin-pemimpin negara Muslim di hadapan negara adidaya adalah bukti ketidakberdayaan mereka di hadapan penguasa dunia.
Sungguh sedih rasanya melihat kepahitan yang terjadi di dunia ini. Terlihat darah rakyat di penjuru dunia mendidih akibat penyiksaan zionis Israel pada Palestina, hingga banyak rakyat yang sampai tak tanggung-tanggung untuk turun ke jalan menyuarakan kebebasan saudaranya di Palestina. Namun sayang seribu sayang mereka hanyalah rakyat biasa yang tidak punya kuasa untuk menghentikan kebiadaban tentara Israel laknatullah. Bahkan ironisnya para pemimpin negara-negara mereka itu, lagi-lagi hanya mengecam tanpa pergerakan nyata membantu perlawanan dengan mengirimkan pasukan bersenjata. Mereka seakan mati kutu di hadapan pemimpin adidaya (Amerika).
Benar turunnya rakyat ke jalan untuk menyuarakan kebebasan Palestina adalah sebuah bukti besar bahwa rakyat telah muak dengan kezaliman yang terus terjadi di dunia ini. Namun, selama sistem Kapitalisme yang diterapkan di dunia ini, maka suara rakyat bukanlah apa-apa di hadapan para pemimpin yang dicengkeram oleh negara adidaya. Sebab walaupun mereka mampu untuk melawan, mereka akan tetap memilih slow demi keamanan negara mereka masing-masing. Itulah egoisnya para pemimpin dalam sistem Kapitalisme, sulit menjadi penolong bagi negara lain yang sedang disiksa sebab mereka hanya mengutamakan keselamatan untuk negaranya dan dirinya sendiri, padahal yang sedang dijajah saat ini adalah saudara dalam Islam.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. Bahwa kaum muslim itu bersaudara.
“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)
Dari kedua ayat di atas menjelaskan betapa eratnya persaudaraan dalam Islam, jika perselisihan antar muslim saja harus dilerai apatah lagi penyiksaan yang dialami oleh saudara kita yang muslim di Palestina, jelas itu harus dihentikan. Tetapi dalam sistem Kapitalisme tak ada arti persaudaraan dalam Islam, karena sistem kapitalisme telah memisahkan agama dari kehidupan mereka si pemimpin negara yang menyandang gelar sebagai pemimpin yang beragama Islam. Alhasil para pemimpin itu hanya menjadi perisai yang abstrak bagi negara muslim yang lainya.
Rakyat Palestina bahkan seluruh kaum muslim di dunia ini butuh perisai yang nyata untuk melindungi dirinya dari kekejaman orang-orang yang telah merancang bidikan peluru-peluru ke dada mereka. Perisai itu tak lain adalah sebuah Negara yang dipimpin oleh seorang Khalifah (Pemimpin muslim) yang semata-mata taatnya hanya kepada Allah saja bukan negara adidaya. Selain itu, perisai ini haruslah sebuah negara yang menggunakan sistem Islam yang menganut hukum-hukum buatan Allah langsung, dengan begitu permasalahan-permasalahan yang dihadapi dunia akan diatur olehnya. Sebab hanya sistem Islamlah yang mampu memperbaiki tatanan dunia yang telah dirusak oleh kebiadaban manusia-manusia biadab, serta hanya pemimpin Islam yang taat pada Allah yang mampu mengerahkan seluruh pasukannya ke medan perang untuk membantu negara Palestina keluar dari penjajahan yang dilakukan Zionis Israel Laknatullah pada hari ini. Wallahualam bissawab. []
