Padahal ketika anak jauh dari agama, mereka tidak punya benteng dan pijakan dalam berbuat. Tidak punya rasa takut pada Sang Pencipta apalagi terhadap manusia. Sehingga mudah sekali terjebak dalam kemaksiatan dan kejahatan
Jadi dari sisi individu mereka lemah dan jauh dari generasi yang kuat baik agama, fisik maupun mentalnya
Oleh Verawati S.Pd.
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
S'bagai prasasti t'rima kasihku 'tuk pengabdianmu
Bait lagu himne guru karangan Sartono di atas bergema di berbagi sekolah dan juga di berbagai tempat yang menyelenggarakan peringatan Hari Guru. Lagu ini sebagai penghormatan dan pengingat bahwa jasa guru begitu luar biasa dalam memberikan ilmu untuk generasi bangsa. Saking besarnya jasa mereka hingga tidak bisa diberikan tanda jasa.
Untuk peringatan Hari Guru Nasional tahun ini 2023 mengambil tema "Bergerak Bersama, Rayakan Merdeka Belajar". Merdeka belajar sendiri adalah program belajar yang dirancang oleh Kemendikbud RI Nadim Makarim. Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Sebab menurut hasil survei Indonesia menduduki peringkat ke 74 dari 79 negara. Sejak digulirkan akhir tahun 2019 hingga kini program ini masih terus berjalan.
Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa dan mahasiswa bisa memilih pelajaran yang diminati. Hal ini dilakukan supaya para siswa dan mahasiswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa. (Kemendikbud.or.id).
Adapun yang paling menonjol dari program ini adalah guru digenjot untuk belajar dan menguasai teknologi. Sedangkan dari sisi siswanya yaitu diberikan kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang disukai, melarang adanya hukuman dan paksaan pada peserta didik serta menancapkan nilai-nilai Pancasila.
Namun, di tengah gencarnya program merdeka belajar ini justru berbagai persoalan pendidikan terus meningkat. Salah satunya adalah dari output pendidikan itu sendiri yaitu siswa. Mereka terus terpapar oleh wabah patologi sosial yang kian hari kian akut. Seks bebas, narkoba, perkelahian, ugal-ugalan di jalan, bullying, tawuran hingga pembunuhan dilakukan oleh siswa.
Dikatakan wabah sebab Penyakit ini sudah terjadi di berbagai tempat. Di kota maupun di desa, orang miskin atau pun orang kaya. Misal tawuran, kalau kita cari berita ini, maka akan ditemui di setiap tempat. Beberapa waktu lalu misalkan tawuran terjadi di Kecamatan Sayung, Demak, empat siswa ditangkap karena hendak tawuran dan juga mereka membawa dua celurit. Polisi mengungkap bahwa ada grup WhatsApp (WA) di kalangan siswa untuk info tentang tawuran (detik[]com, 18/11/2023)
Ini adalah salah satu kasus tawuran yang terjadi di desa. Kasus-kasus serupa dan kejahatan yang lainnya pun marak di mana-mana. Artinya kerusakan ini memang sudah menjadi wabah. Lantas apa penyebabnya?
Sesungguhnya output pendidikan seperti itu adalah buah dari pendidikan yang berasas sekular kapitalistik. Ideologi ini menjauhkan agama dari kehidupan. Sehingga pelajaran agama dikerdilkan dan yang diutamakan adalah bagaimana menghasilkan siswa yang siap ditempatkan di dunia kerja (butuh pabrik). Mereka digenjot dengan kompetensi dan keahlian tetapi kosong dari nilai agama. Akibatnya jiwa mereka rapuh sebab tidak mampu menemukan jati diri atau tidak memiliki akidah yang benar.
Padahal ketika anak jauh dari agama, mereka tidak punya benteng dan pijakan dalam berbuat. Tidak punya rasa takut pada Sang Pencipta apalagi terhadap manusia. Sehingga mudah sekali terjebak dalam kemaksiatan dan kejahatan. Jadi dari sisi individu mereka lemah dan jauh dari generasi yang kuat baik agama, fisik maupun mentalnya.
Selain jauhnya dari agama, penyebab anak anarkis adalah absennya orang tua dari pengasuhan anak. Kapitalisme mendorong orang tua baik bapak atau ibu untuk sibuk mencari materi. Bekerja dari pagi hingga petang bahkan larut malam. Meninggalkan anak bersama pembantu atau dititipkan ke daycare atau yang lainnya. Akibatnya anak kurang kasih sayang dari orang. Sehingga mereka mencari pelampiasan di luar rumah, mencari eksistensi demi jati diri. Padahal di luar tidaklah aman. Kejahatan dan kemaksiatan siap menerkam mereka. Lingkungan sosial dan pergaulan akan memberikan pengaruh yang sangat besar.
Ditambah negara seolah absen dalam menangani berbagai persoalan kehidupan termasuk urusan remaja. Sejatinya negara mampu menghentikan situs pornografi dan judi online. Nyatanya tidak, judi online dan pornografi. Sebaliknya, anak-anak yang ikut Rohis malah dikatakan biang teroris, jilbab dan cadar dipersoalkan. Padahal itu adalah cara anak-anak sekolah untuk mendapatkan pelajaran agama.
Jadi cukupkah dengan program merdeka belajar mampu menyelesaikan persoalan khususnya output pendidikan yang baik? sebenarnya di jaman yang serba canggih ini, anak-anak mudah belajar dan mendapatkan ilmu dari mana saja termasuk internet dan Intelegensi Artifisial (IA) bahkan lebih pintar dari gurunya. Justru yang urgen diberikan kepada mereka adalah pemahaman agama, adab dan akhlak, yang itu semua tidak bisa didapatkan dalam mesin kecerdasan.
Berbeda dalam sistem Islam. Pendidikan yang dirancang akan berlandaskan pada akidah Islam. Anak-anak ditumbuhkan keimanan dan ketakwaannya. Agama menjadi pijakan dalam belajar ilmu apa pun. Tidak ada pemisahan agama dengan kehidupan. Termasuk dalam ilmu dan pengetahuan serta teknologi. Pembelajaran semuanya itu semata-mata untuk bisa menyaksikan kehebatan Allah Swt. dalam menciptakan alam raya ini.
Negara pun akan mencegah berbagai sarana termasuk internet dari hal yang merusak. Tayangan televisi hanya akan diisi dengan yang bermanfaat bagi rakyat. Berbagai pihak termasuk polisi dan warga saling menjaga agar tidak terjadi kemaksiatan dan kejahatan di lingkungan. Pelaku kejahatan akan diberikan sanksi, bahkan ditingkat sekolah atas akan di sediakan Qodhi Hisbah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Sebab mereka sudah terkenang taklif hukum.
Negara pun akan memberikan berbagai fasilitas pendidikan yang menunjang. Seperti lapangan olah raga, laboratorium, perpustakaan, taman bermain dan lain sebagainya. Tentunya pendidikan ini diselenggarakan langsung oleh negara dengan tanpa memungut biaya sedikit pun. Kaya miskin dipersilahkan untuk menikmati sekolah ini.
Termasuk negara akan memberikan upah yang tinggi bagi para gurunya. Sebagaimana Umar bin Khattab dahulu, beliau menghargai guru dengan upah atau gaji yang tinggi. Masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas).
Dengan gaji yang besar ini guru akan fokus memberikan ilmu dan pendidikannya pada anak didik. Mereka tidak perlu cari tambahan uang lagi. Tugas mereka hanya mencetak generasi pemimpin yang menguasai tsaqafah Islam sekaligus sains dan teknologi. Semuanya untuk disiapkan melakukan kewajiban tertinggi dari agama ini yaitu dakwah dan jihad fi Sabilillah.
Wallahualam bissawab. []
