Sebagai pemimpin seharusnya memprioritaskan rakyatnya dalam memenuhi kebutuhan secara komprehensif
Sayangnya, itu tidak terjadi di sistem sekuler di mana masyarakat khususnya orang-orang kecil menjadi korban sistem bobrok ini
Penulis Sasmin
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Akhir-akhir ini kita telah menyaksikan kondisi negeri yang tercekam akibat dari kemarau yang panjang. Namun, tampak sangat kurang bahkan di beberapa daerah tidak memiliki mitigasi dalam menghadapi kekeringan. Olehnya itu, banyak daerah yang akhirnya terkena dampak kekeringan dan sulit menemukan air bersih untuk di konsumsi masyarakat setempat.
Dari media mengakumulasi jumlah warga yang terdampak kekeringan yang terus bertambah hingga pekan ketiga bulan Desember 2023. Pantauan BNPB pada periode 14-21 September 2023, sedikitnya 166.415 jiwa yang mengalami krisis air bersih yang tersebar di 53 kecamatan di 11 provinsi, jumlah ini meningkat dari pekan sebelumnya 27 Juli – 3 Agustus 2023, dimanah terdapat 19,581 jiwa yang didata mengalami kekeringan.
Ironisnya, kala Indonesia dilanda krisis air Kementerian ESDM memutuskan peraturan dalam penggunaan air tanah wajib meminta izin dari kementerian ESDM yang terlampir dalam keputusan Menteri ESDM nomor 291.K/GL.01/MEM.G/2023. Tentang standar penyelenggaraan persatuan penggunaan air tanah, di teken pada 14 September 2023. Aturan ini berlaku untuk individu, kelompok masyarakat, instansi pemerintah, badan hukum, atau lembaga sosial yang menggunakan air tanah dan sungai minimal 100.000 liter per bulan, aturan ini berlaku jika air tanah dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari serta pertanian di luar sistem irigasi yang sudah ada.
Beleid (kebijakan) ini juga berlaku untuk penggunaan air untuk kepentingan penelitian, kesehatan, pendidikan, taman kota, rumah ibadah, fasilitas umum, serta instansi pemerintahan pun harus mendapatkan izin. Selain dari pada itu, bantuan sumur bor/gali untuk penggunaan air tanah secara berkelompok yang berasal dari pemerintah, swasta atau perseorangan mesti mengantongi izin kementerian ESDM (BBC NEWS INDONESIA, 31 Oktober 2023).
Tak dapat dipungkiri bahwa air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi semua negara didunia ini, setiap aktivitas manusia setiap harinya tidak terlepas dari air, oleh karena itu negara melihat air sebagai objek strategis yang perlu dikelola dengan baik. Bukan berarti pemerintah membatasi penggunaan air atas alasan menjaga ketersediaan dan mencegah penurunan muka air.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dianugerahi sumber daya alam yang berlimpah sampai-sampai penggunaan air masyarakat kurang dari hasil air yang diperoleh, dari hasil laporan ADB (Asian Development Bank) tahun 2016, ketersediaan air di Indonesia mencapai 690 miliar meter kubik pertahunya, sementara kebutuhan air orang Indonesia hanya 175 miliar meter kubik, pembandingannya sangat jauh, akan tetapi Indonesia sering mengalami krisis air hingga air bersih.
Ditambah adanya pengaturan penggunaan air tanah, masyarakat makin kesulitan memenuhi kebutuhan hari-harinya, seharusnya pemerintah mengupayakan sumber air yang mumpuni bagi masyarakat tanpa membatasi karena berbagai alasan, bila pemerintah berpacu pada pengaturan maka dampak buruk tidak hanya mengarah pada manusia melainkan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Sebagai pemimpin seharusnya memprioritaskan rakyatnya dalam memenuhi kebutuhan secara komprehensif. Sayangnya, itu tidak terjadi di sistem sekuler di mana masyarakat khususnya orang-orang kecil menjadi korban sistem bobrok ini.
Air merupakan sumber kehidupan yang Allah memberikan untuk di dipergunakan bagi seluruh manusia di dunia secara gratis, Allah tidak membebani biaya 0,1 persen pun bagi hambanya. Namun, karena dunia ini dikuasai oleh manusia yang mengedepankan keuntungan sehingga apa-apa yang gratis menjadi berbayar hingga menimbulkan denda. Begitulah jika sistemnya bertuhan pada manusia yang mengedepankan ego ketimbang akal sehat. Inilah muka demokrasi yang datang dari orang kafir.
Dalam dunia Islam, air dipergunakan untuk masyarakat secara gratis, sebagaimana masa Rasulullah saw.di mana masyarakat muslim kesulitan akan air dan mata air hanya di satu titik yakni sumur yang dimiliki oleh orang Yahudi, pada masa itu semua orang membeli air dengan harga yang mahal, begitulah ekonomi orang-orang Yahudi semakin sedikit mata air maka semakin mahal harganya seperti itu pula yang terjadi hari ini. Sampai akhirnya Rasulullah saw. Menyerukan kepada para sahabat yang bisa memiliki sumur tersebut dan disedekahkan kepada masyarakat maka baginya surga dan pahala yang terus mengalir.
Maka Utsman bin Affan ra. Mencari dan membelinya, kala itu jika beliau mengedepankan keuntungan maka beliau akan menjadikan usaha bisnisnya akan tetapi karena imannya kepada Allah dan Rasulnya begitu besar beliau menggratiskan air untuk semua masyarakat dan airnya makin lama makin menumpuk, masyaallah. Oleh karena itu, jangan keluarkan alasan-alasan sampai merugikan banyak orang dan cara mematikan kezaliman dalam ekonomi adalah dengan sedekah.
Negara Islam wajib menyediakan dan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat termaksud air dengan berbagai cara dan sekuat tenaga karena negara adalah raa’in. Pemerintah hari ini wajib mencontoh sikap dermawan sahabat nabi saw. Utsman bin Affan ra. Bahwa penggunaan air secara gratis akan semakin banyak airnya bukan akan surut. Oleh karena itu, negara butuh pemimpin-pemimpin yang betul-betul peduli dengan rakyat bukan justru menyengsarakan. Dan sungguh hanya sistem Islam yang mampu melahirkan pemimpin yang memberi kesejahteraan kepada seluruh rakyat yang bernaung di bawahnya.
Wallahualam bissawab. []
