Kuatnya keyakinan warga Palestina atas satu-satunya pertolongan dari Allah semata, terbukti dengan diamnya pemimpin-pemimpin negara dengan mayoritas penduduk muslim
Tidak adanya aksi nyata dari negara-negara terdekat untuk ikut berjuang melawan zionis Israel adalah bukti akan lemahnya keberpihakan mereka
Oleh Maya Dhita
Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI -- Adakah yang lebih sakit dari melihat saudara kita terluka, terzalimi, hingga meregang nyawa tanpa kita bisa berbuat apa-apa? Adakah yang lebih menakutkan saat tahu bahwa banyak nas yang menunjukkan jika pembiaran kita pada saudara kita yang terzalimi akan dibalas dengan pembiaran Allah di akhirat kelak?
Adakah yang lebih membuat iri saat melihat kuatnya keimanan saudara kita di Palestina yang berujung syahid.
Di tengah dentuman bom, suara tembakan, gas air mata, tembakan fosfor putih di udara dan segala bentuk tindakan represif yang dilakukan tentara zionis Israel, warga Palestina terus berjuang tanpa meninggalkan salat, membaca, dan menghafal Al-Qur'an serta hadis.
Sedangkan kita yang hidup di negeri yang terlihat aman dengan fasilitas rumah ibadah yang tersebar di setiap jalan, untuk salat berjamaah di masjid saja malas. Bahkan banyak pula yang tidak salat. Apatah menghafal Al-Qur'an, tilawah terakhir saja sudah tidak ingat kapan. Lalu dengan alasan apa Allah akan memberi kita akhir yang mulia?
Pada 6 November 2023, menteri kesehatan Palestina yang dikelola Hamas di Gaza melaporkan telah lebih dari 10.000 orang tewas termasuk di dalamnya lebih dari 4.100 anak-anak. Ini berarti rata-rata setiap 10 menit ada satu anak yang syahid. (BBC, 11/11/2023)
Banyak kesaksian disertai video dan foto-foto tentang kematian warga Gaza dalam keadaan tersenyum. Aroma kasturi menyeruak di tubuh jenazah-jenazah syahid. Bukankah ini adalah akhir yang dirindukan oleh semua muslim? Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan, jalan pintas ke surga itu ada di Palestina bagi mereka yang bercita-cita syahid.
Kuatnya keyakinan warga Palestina atas satu-satunya pertolongan dari Allah semata, terbukti dengan diamnya pemimpin-pemimpin negara dengan mayoritas penduduk muslim. Tidak adanya aksi nyata dari negara-negara terdekat untuk ikut berjuang melawan zionis Israel adalah bukti akan lemahnya keberpihakan mereka.
Nyata benar lemahnya ikatan nasionalisme. Empati atas derita saudara muslim tersekat-sekat. Yang mampu dilakukan hanya sebatas dukungan, donasi, boikot, dan doa.
Kelompok muslim menyadari akan wajibnya pembelaan atas saudara seiman yang teraniaya. Negara pun seharusnya berperan lebih dengan mengikuti langkah milisi. Nyatanya, negara sekuler kapitalis tidak berpemikiran sama. Pemerintahan ini cenderung bermain aman dan tidak ingin berbenturan dengan negara adidaya yang notabene penyokong serangan zionis atas Palestina. Jelas sudah ketergantungan negara-negara ini pada Amerika.
Dalam hadis yang sahih, Rasulullah saw., bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Maka derita saudara muslim kita di Palestina juga jadi derita kita, sebagaimana bagian tubuh yang tersakiti.
Saat sekat nasionalisme mampu diruntuhkan dan diganti dengan kepemimpinan Islam dalam naungan negara Khilafah, maka dengan izin Allah, Khilafah akan datang membawa kesembuhan bagi Palestina. Tentara-tentara Khalifah terbaik akan merebut kembali setiap jengkal tanah yang telah diperjuangkan oleh keringat, darah, dan airmata para syuhada. Karena Khalifah akan mewujudkan pembelaan terbaik terhadap wilayah yang direbut oleh penjajah.
Maka bukanlah sebuah utopia jika kemenangan Palestina akan datang saat kepemimpinan Islam tegak. Khilafah sebagai representasi kepemimpinan dalam Islam di mana syariat Islam akan ditegakkan secara kafah.
Sebagaimana janji Allah, saat mereka mau kembali kepada Kitabullah dan sunah Rasulullah, berpegang teguh pada syariat Islam secara sempurna dalam tatanan individu, masyarakat, hingga negara, maka tidak akan ada yang lebih berhak atas tanah penuh berkah itu selain kaum muslim.
Wallahualam bissawab.
