Sikap pemimpin negeri-negeri Muslim pun tak pernah berubah. Hanya berani mengecam dan mengutuk. Tanpa aksi nyata mengirimkan pasukan militernya untuk membela dan membebaskan Palestina.
Kecaman dan kutukan yang sejatinya sebagai wujud pencitraan diri. Sementara di belakang punggung mereka, agenda normalisasi hubungan dengan Israel terus dilakukan. Alhasil, bagaimana mungkin konflik Israel dan Palestina dapat berujung pada pembebasan Bumi Palestina, jika sikap para pemimpin Muslim saja tidak tegas dan terbelah?
Jannatu Naflah
Praktisi Pendidikan
Matacompas.com, OPINI -- Gaza kembali membara. Perang antara kelompok Hamas Palestina dan Israel terus mengalami eskalasi. Korban jiwa dan luka-luka terus berjatuhan, termasuk warga sipil. Al Jazeera melaporkan tercatat lebih dari 1.000 orang di pihak Israel dan setidaknya 921 orang Palestina tewas, sedangkan lebih dari 4.600 orang terluka sejak serangan Hamas pada Sabtu (07/10/2023), yang disusul oleh serangan balasan Israel.
Penduduk Gaza dicekam ketakutan akibat pengeboman yang menyerang rumah penduduk, rumah sakit, dan sekolah. Muncul kekhawatiran publik atas kehancuran infrastruktur sipil karena janji Israel yang akan melakukan pengepungan secara penuh. Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah seiring dengan intensitas serangan antara Hamas dan Israel. (cnbcindonesia[dot]com, 11/10/2023).
Serangan Hamas terhadap Israel yang memicu perang di Gaza, menambah panjang konflik tak berujung antara Israel dan Palestina. Berkobarnya perang antara Hamas dan Israel ini pun menuai beragam respons dari dunia, baik di Barat maupun di Timur.
Di Barat, Belgia, Jerman, Perancis, dan Yunani adalah sedikit dari banyak negara yang mengutuk keras aksi Hamas dan menyebutnya sebagai aksi teror terhadap warga sipil Israel. Sementara di Dunia Islam, Arab Saudi, Indonesia, Turki, dan Qatar menyerukan dan mendesak penghentian segera kekerasan antara Israel dan Palestina.
Dunia maya pun tak kalah ramai karena framing jahat media terhadap Hamas. Salah satu media nasional bahkan melabeli Hamas sebagai teroris, imbas serangannya terhadap Israel. Label ini tak ayal lagi mengundang kritik keras dari warganet Indonesia. Jika aksi perjuangan membebaskan Palestina dari penjajahan kejam Zionis Israel disebut sebagai aksi terorisme, sedangkan pelakunya disebut sebagai teroris, maka sebutan apa yang layak disematkan terhadap aksi penjarahan, pendudukan, dan penjajahan yang dilakukan oleh Israel?
Ya, begitulah sikap dunia terhadap konflik Israel dan Palestina. Sejatinya, selalu sama, ibarat lagu lama yang terus berulang. Jangankan sikap tiap negara di dunia, sikap PBB yang notabene sebagai tempat persatuan bangsa-bangsa di dunia pun tak jauh beda. Buktinya, 36 Resolusi PBB terkait konflik Israel dan Palestina nyatanya tak mempan di hadapan dunia. Fakta bahwa PBB tak ubahnya sapi ompong yang tak berdaya di hadapan Israel dan sekutunya.
Sikap pemimpin negeri-negeri Muslim pun tak pernah berubah. Hanya berani mengecam dan mengutuk. Tanpa aksi nyata mengirimkan pasukan militernya untuk membela dan membebaskan Palestina. Kecaman dan kutukan yang sejatinya sebagai wujud pencitraan diri. Sementara di belakang punggung mereka, agenda normalisasi hubungan dengan Israel terus dilakukan. Alhasil, bagaimana mungkin konflik Israel dan Palestina dapat berujung pada pembebasan Bumi Palestina, jika sikap para pemimpin Muslim saja tidak tegas dan terbelah?
Di sisi lain, sekularisme yang melahirkan nasionalisme di Dunia Islam, nyata menyekat dan mengikis rasa peduli kaum Muslim terhadap derita warga Palestina. Paradigma nasionalisme nyata melahirkan pandangan di tengah kaum Muslim bahwa derita Palestina adalah derita milik Palestina sendiri yang dapat diselesaikan dengan perundingan damai atau solusi dua negara yang ditawarkan oleh Barat. Sekat nasionalisme ini pula yang menjauhkan kaum Muslim dari solusi hakiki untuk membebaskan Palestina, yakni dengan jihad dan khilafah.
Ya, jihad dan khilafah, inilah dua solusi yang sejatinya mampu membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan Israel. Solusi yang justru di-framing jahat oleh Barat hari ini sehingga memunculkan ketakutan umat terhadap diksi jihad dan khilafah. Monsterisasi terhadap ajaran Islam yang memunculkan islamofobia. Melunturkan persaudaran dan melemahkan persatuan kaum Muslim di dunia. Tidak heran, jika hampir dua miliar kaum Muslim dunia tak berdaya menghadapi tujuh juta orang Israel yang menjajah Bumi Palestina.
Sejatinya, paradigma Islam memandang bahwa setiap Muslim adalah bersaudara. Alhasil, serangan terhadap kaum Muslim di Palestina sesungguhnya merupakan serangan terhadap seluruh umat Islam di dunia. Serangan Israel terhadap warga Palestina niscaya dapat dihentikan dengan pasukan militer dari tentara-tentara kaum Muslim yang menyambut seruan jihad di bawah naungan khilafah.
Khilafah jelas menjadi kebutuhan mendesak umat Islam saat ini. Sebab, hanya khilafah yang mampu menyatukan umat Islam yang tercerai berai dalam satu ikatan akidah, aturan, pemikiran, dan perasaan yang sama. Khilafah niscaya tidak hanya sebagai simbol persatuan umat Islam, tetapi juga sebagai perisai bagi umat.
Di bawah naungan khilafah, niscaya darah, jiwa, harta, dan raga, serta kehormatan dan kemuliaan kaum Muslim akan terjaga. Alhasil, hanya khilafah satu-satunya institusi negara yang berani mengirimkan pasukan militer terbaiknya untuk membebaskan dan mengakhiri penjajahan Israel atas Palestina. Inilah solusi hakiki yang dirindukan oleh warga Palestina dan umat Islam seluruh dunia hari ini. Wallahualam bissawab. [MDEP]
