Sungguh miris menyaksikan nasib malang anak bangsa, padahal mereka seharusnya adalah agen of change (kelompok perubahan) yang akan mengubah tatanan dunia di masa depan, mungkin lewat tangannya atau lewat anak-anak yang lahir dari rahimnya
Namun, sayang seribu sayang kini mereka malah terjerat dalam kehinaan karena paksaan keadaan
Penulis Rismawati, S.Pd.
Member AMK dan Pegiat Literasi
Matacompas.com, OPINI --Masa remaja adalah masa-masa mencari jati diri bagi anak-anak yang baru saja tumbuh ke fase berikutnya. Selain itu, masa remaja juga biasa diartikan sebagai masa-masa peralihan pertumbuhan pada seorang anak menuju kedewasaan. Di masa ini, anak sangat membutuhkan dampingan oleh orang tua atau sekitarnya agar tak salah dalam mencari jati dirinya.
Sebab jika mereka salah dalam melangkah maka kita akan dapati mereka dalam kondisi yang akan menghinakan dirinya sedangkan mereka tidak menyadari atas kehinaan itu.
Sebagaimana yang kita saksikan hari ini, berapa banyak anak yang akhirnya memilih jalan salah menjadi anak berandal, ikut tawuran bahkan yang lebih miris remaja perempuan malah menuju jalan lembah hitam demi sebuah ekonomi. Sungguh memilukan, niat hati untuk membahagiakan keluarga dengan uang namun malah menghilangkan kesucian yang menjadi salah satu harga diri seorang wanita.
Sebagaimana yang di lansir oleh news[dot]republika[dot]co[dot]id (24/09/2023) baru-baru ini bahwa, Polda Metro Jaya telah melakukan penangkapan terhadap seorang perempuan yang berinisial FEA (24 tahun), dia ditangkap akibat telah melakukan prostitusi anak atau perdagangan anak di bawah umur dengan menggunakan media sosial. Adapun anak yang di perdagangkan itu berinisial DO umur 15 tahun dan temannya berinisial SM berumur 14 tahun. Kedua anak tersebut di janjikan uang, untuk DO dijanjikan 1 juta, sedangkan SM dijanjikan sebanyak 6 juta. Karena itulah FEA ditangkap oleh Polda Metro Jaya.
"Kami melakukan upaya paksa terhadap tersangka yang diduga terkait prostitusi atau tindak pidana perdagangan orang (TPPO)," ungkap Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak kepada para wartawan di Jakarta, Ahad (24/9/2023).
Selain itu, telah di temukan juga di Medan kasus prostitusi terhadap 41 satu anak. Sebagaimana yang di laporkan oleh Ketua Forum Panti Kota Medan yang bernama Besri Ritonga. Beliau mengatakan bahwa ada sebanyak 41 anak yang kini menjadi korban eksploitasi. Mirisnya eksploitasi ini dilakukan oleh pengelola dua panti asuhan di Kota Medan. Besri juga menjelaskan bahwa kasus prostitusi pada anak di Panti Asuhan Karya Putra Tunggal Anak Indonesia yang beralamat di jalan Rinte telah ditemukan 15 anak, sedangkan Panti Asuhan Yayasan Tunas Kasih Olayama Raya yang alamatnya di Jalan Pelita tercatat sekitar 26 anak yang dijadikan korban eksploitasi. (Detik[dot]com, 23-09-2023)
Dari fakta di atas menghantarkan kepada kita terkait gambaran suram anak-anak Indonesia masa kini. Negara yang katanya kaya ternyata telah menjerumuskan generasinya dalam lembah hitam sejak dini. Lagi-lagi karena faktor ekonomi memaksa anak-anak ini terjerumus ke dalam dunia kelam yang menghinakan.
Sungguh miris menyaksikan nasib malang anak bangsa, padahal mereka seharusnya adalah agen of change (kelompok perubahan) yang akan mengubah tatanan dunia di masa depan, mungkin lewat tangannya atau lewat anak-anak yang lahir dari rahimnya. Namun, sayang seribu sayang kini mereka malah terjerat dalam kehinaan karena paksaan keadaan. Lalu di manakah tanggungjawab negara dalam mengayomi dan memberikan perlindungan kepada anak-anak bangsa yang kelak menjadi calon-calon penerus peradaban negara di masa depan?
Melihat mereka dengan pasrah diboyong oleh para mucikari dengan imingan rupiah, hal itu pun mereka lakukan tak lain karena kekurangan ekonomi. Sungguh, kondisi ini jelas melukai hati kita sebagai saudarinya. Betapa tidak, negara kita yang sistemnya telah memisahkan agama dari kehidupan (kapitalisme) telah membuat anak bangsa kehilangan moralitasnya serta negara kita yang dikenal kaya akan sumber daya alamnya ternyata tidak mampu memberikan kehidupan yang nyaman serta keamanan yang cukup baik bagi rakyatnya terkhusus anak-anak penerus bangsa.
Sungguh berbanding terbalik dengan sistem Islam yang selalu lebih mengutamakan kenyamanan, kesejahteraan serta keamanan yang baik bagi seluruh rakyatnya terutama anak-anak, sebab dalam Islam diyakini bahwa anak-anak adalah calon-calon pengukir peradaban di masa depan atau calon-calon penerus dan pelindung Negara di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemimpin dalam sistem Islam akan senantiasa menyediakan mekanisme perlindungan pada anak-anak generasi penerus bangsa, baik perlindungan terhadap keamanan anak dalam lingkungan sekitar dan lingkungan pelajar serta dalam lingkungan kesehatan.
Karena sesungguhnya tugas seorang pemimpin adalah memberikan keamanan dan kenyamanan pada rakyatnya termasuk anak-anak generasinya. Sebagaimana yang dikatakan dalam hadis Bukhari dan Muslim. “Sesungguhnya seorang Imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menjelaskan bahwa pemimpin itu adalah perisai yang tugasnya mengayomi dan melindungi seluruh rakyatnya.
Selain itu Rasulullah saw. juga bersabda: “Tidaklah seorang pemimpin mengurusi urusan kaum Muslim, kemudian tidak bersungguh-sungguh untuk mengurusi mereka dan tidak menasihati mereka kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR. Shahih Muslim). Hadis ini memberikan sebuah ancaman bagi pemimpin yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengurusi rakyatnya maka mereka tidak akan masuk ke dalam surga dan hanya akan bersama rakyatnya yang selama hidup berbuat maksiat.
Oleh karena itu, sebagai pemimpin harusnya mengembalikan fitrahnya sebagai pemimpin yang sesungguhnya yang mengayomi, memenuhi kebutuhan dan memberi keamanan yang sebaik-baiknya kepada rakyatnya terutama kepada anak-anak calon penerus bangsa. Namun, semua itu adalah suatu kemustahilan jika mengharapnya dalam sistem Kapitalisme yang telah menjauhkan agama dari kehidupan rakyatnya.
Rakyat dan anak-anak sesungguhnya butuh perisai yang sungguh-sungguh dalam mengurusi mereka dan sistem yang mampu mewujudkan semua itu hannyalah sistem Islam yang pemimpinya takut hanya kepada Allah semata sehingga membuatnya takut untuk melalaikan tugas sebagai seorang pemimpin. Wallahualam bissawab. [MDEP]
