Suhartini, M.Kom
(Penulis)
Program Merdeka Belajar merupakan pendekatan terhadap siswa dan mahasiswa yang bisa memilih pelajaran sesuai dengan peminatan. Ini dilakukan agar para siswa dan mahasiswa dapat mengoptimalkan bakat serta bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa.
Dikutip dari TribunSumsel[dot]com – Guru dan kepala sekolah SMA, SMK negeri maupun swasta mengikuti diskusi panel dengan tema Merdeka Belajar untuk Membangun Insan Cerdas Sumsel 2024. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula SMAN 3 Martapura, Rabu (09/08/2023). Adapun narasumber diskusi panel ini dari Kadisdik Sumsel Drs H Sutoko MSi diwakili Kasi Kurikulum Disdik Provinsi Sumsel Dr Parmin, Direktur Universitas Palembang Dr Meita Istianda, SIP, MSi. Merdeka belajar saat ini menjadi pembahasan di kalangan masyarakat terkhusus dunia pendidikan.
Dalam merdeka belajar terdapat tiga indikator yang digagas kementerian yaitu partisipasi siswa dan mahasiswa dalam pendidikan Indonesia yang merata, pembelajaran yang efektif, dan tidak adanya ketertinggalan anak didik. Indikator tersebut bisa dicapai dengan memperbaiki infrastruktur pendidikan seperti fasilitas kelas, peralatan pendukung dan teknologi pendidikan yang digunakan harus lebih baik dari yang digunakan saat ini.
Untuk mencetak insan cerdas, kementrian membentuk kurikulum merdeka belajar. Kurikulum Merdeka diimplementasikan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang merupakan bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional. Profil pelajar Pancasila terdiri dari : beriman (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia), mandiri, bergotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Melalui project pengembangan kompetensi dan karakter dilakukan dalam proyek keterampilan yang diminati peserta didik, seperti keterampilan kreator konten.
Namun kurikulum merdeka belajar memiliki cela kelemahan yaitu berasas pada sekulerisme kapitalisme dengan menggunakan pemeringkatan PISA (Programme for international Student Assesment) sebagai standar capaian. Sehingga berfokus pada materi esensial (literasi dan numerasi yang selama ini menjadi acuan penilaian PISA. Selain itu juga dari asas kapitalisme diukur dengan terserapnya lulusan dalam dunia kerja.
Melalui kerangka dasar kurikulum memiliki tujuan serta target yang hendak diraih dari implementasi kurikulum merdeka belajar ini. Inilah perkara paling mendasar dari sebuah kurikulum karena kesuksesan bukan dilihat dari penerimaan atau kebahagiaan saat belajar yang didapat oleh peserta didik dalam proses pembelajaran karena itu hanya aksesoris.
Tanpa disadari bahwa pendidikan saat ini telah mengesahkan sejumlah ide sekuler dan liberal ke dalam pendidikan. sehingga pendidikan dijadikan kunci yang sangat efektif untuk menghasilkan sepasukan besar para pengajar dan peserta didik yang bersedia menjaga dan melestarikan metodologi pendidikan sekuler.
Metodologi pengajaran tersebut, pertama : memisahkan agama dari kehidupan, sehingga lulusan akan bertransformasi menjadi kaum yang terdidik tanpa memiliki nilai-nilai agamis, kedua : membentuk kepribadian yang menghormati, mengagungkan, dan meneladani barat.
Dengan demikian kurikulum ini tidak menjawab kebutuhan masyarakat, yaitu lahirnya sumber daya manusia yang unggul, sehingga akan dapat membangun kembali peradaban Islam. Hanya dengan sistem Islam saja pendidikan yang berkarakter serta unggul untuk mengembalikan kejayaan Islam. ***Wallahu A’lam Bisshawab***
