Berbeda halnya dengan Islam, tugas negara dalam Islam adalah menjamin dan memenuhi bahan pokok masyarakatnya dengan baik termasuk LPG bersubsidi
Negara harus memastikan setiap individu rakyat dapat memenuhi kebutuhan hajat hidupnya baik sandang papan dan pangannya
Khrisa Hardaningrum
Aktivis Muslimah
Matacompas.com, OPINI -- Gas Elpiji 3 kilogram atau elpiji melon kembali membuat emak-emak resah dan mengeluh. Pasalnya, keberadaan 'si Melon' ini langka lagi di pasaran sejak Juli kemarin.
Jeni yang usianya 50 tahun mengaku, tidak bisa memasak selama beberapa hari. Dikarenakan tidak adanya pasokan Elpiji 3 kilogram di daerah sekitar tempat dia tinggal. Jeni tinggal Banyuwangi, Jawa Timur. Bahkan, untuk makan setiap harinya dia terpaksa untuk membeli makanan siap saji. Selain langka selama satu bulan terakhir, harga gas 3 kilogram di Banyuwangi juga naik. Dari yang harga normalnya Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per tabung, tiba-tiba naik Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per tabung. (Liputan6, 2-08-2023)
Menurut Nicke Widyawati, selaku Direktur Utama Pertamina, kelangkaan gas Elpigi 3 kg terjadi akibat meningkatnya konsumsi di berbagai wilayah. "Dalam bulan Juli ini, kita melihat peningkatan konsumsi sebesar 2 persen yang terjadi sebagai dampak dari adanya libur panjang beberapa waktu lalu," jelas Nicke melalui pernyataan resmi (CNN Indonesia, 25-7-2023).
Nicke juga menyampaikan bahwa menurut informasi pemerintah, sekitar 60 juta rumah tangga memiliki kelayakan untuk menerima subsidi dari total 88 juta rumah tangga, yang mewakili sekitar 68 persennya. Namun, yang menarik, saat ini persentase penjualan Elpiji bersubsidi terhadap total penjualan Elpiji ternyata tinggi, bahkan mencapai 96 persen.Nicke menyatakan hal ini, mengindikasikan adanya subsidi yang tidak tepat sasaran.
Di tengah-tengah kelangkaan si Melon justru pemerintah meluncurkan produk Elpigi 3 kg non subsidi bermerek Bright dengan harga yang lebih mahal. Harga elpiji pink jauh lebih mahal di atas elpiji melon. Harga Elpiji melon yang biasanya dijual seharga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per tabung karena sudah disubsidi pemerintah, sedangkan elpiji pink 3 kg seharga Rp56 ribu per tabung.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina, Patra Niaga Irto Ginting menyebutkan tidak adanya perbedaan kualitas gas di antara Elpiji 3 kg tabung warna hijau dengan Bright Gas 3 kg warna pink. Irto menuturkan bahwa tabung Bright Gas lebih aman.
Fakta-fakta tersebut menambah daftar kesulitan rakyat di negeri ini. Sudah sepatutnya, ketersediaan LPG menjadi tanggungjawab pemerintah. Kelangkaan ini adalah tanda gagalnya pemerintah memenuhi kebutuhan pokok rakyat yang mana adalah kewajiban utama bagi setiap Negara.
Keberadaan Elpiji non-subsidi secara bersamaan, terutama dengan klaim keamanannya yang lebih tinggi, secara nyata memberikan peluang kepada para pengusaha di pasar ini. Tidak hanya itu solusi dalam sistem kapitalisme ini hanya ilusi, kapitalisme gagal memberi kesejahteraan kepada rakyat. Bahkan hak dasar rakyat tak dapat diraih dengan mudah. Bagaimana tidak dengan munculnya produk Elpiji 3 kg non-subsidi bermerek Bright dengan harga yang lebih mahal justru menambah beban dan resah masyarakat. Dampak dari sistem kapitalisme telah mengalihkan perhatian dari tanggung jawab, peran, dan fungsi pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Di mana para penguasa justru lebih mementingkan kepentingan korporasi.
Berbeda halnya dengan Islam, tugas negara dalam Islam adalah menjamin dan memenuhi bahan pokok masyarakatnya dengan baik termasuk LPG bersubsidi. Negara harus memastikan setiap individu rakyat dapat memenuhi kebutuhan hajat hidupnya baik sandang papan dan pangannya.
Sistem ekonomi Islam meniscayakan ketersediaannya untuk semua rakyat, dengan harga murah atau gratis, karena Islam mengharuskan pengelolaan SDA oleh negara. Dalam hadis diriwayatkan,
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis tersebut mengindikasikan bahwa umat Muslim (manusia) berbagi sumber daya seperti air, padang rumput, dan api, yang semuanya merupakan harta milik umum yang tidak diperkenankan dimiliki secara individual. Negara wajib mengelola sendiri baik dalam pengaturan produksi juga distribusinya di mana hasilnya untuk kepentingan rakyat. Dan diserahkan kepada masyarakat berupa barang olahan ataupun berupa fasilitas lainnya.
Solusi yang diberikan Islam adalah hasil dari kebijaksanaan yang berasal dari pencipta, Allah Swt. di mana Allah menciptakan manusia sudah satu paket dengan aturannya. Sudah saatnya kita kembali pada Islam karena dengannya hidup kita penuh kedamaian, keadilan dan sejahteraan. Wallahualam bissawab.
