Generasi gemilang lahir dari sistem Islam yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.
Stunting adalah ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia, karena bukan sekedar mengganggu pertumbuhan fisik tetapi juga mengganggu perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi belajar.
Oleh Maya Dhita
Pegiat Literasi
Miris, mungkin kata ini yang bisa mewakili kondisi negara kita saat ini. Bagaimana tidak, negeri yang kaya, elok serta rupawan dengan potensi sumber daya alam melimpah harus dihadapkan pada fakta tingginya angka kemiskinan yang berdampak pada tingginya angka stunting pada balita.
Head of Agriculture, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Aditya Alta, dalam keterangan resminya pada Minggu (9/7/2023) menyebutkan bahwa sekitar 21 juta orang, yang berarti tujuh persen populasi kekurangan gizi dengan asupan kalori per kapita harian kurang dari standar Kementerian Kesehatan, 2.100 kkal. Selain itu tercatat (2022) ada 21,6 persen anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami stunting dengan rasio tinggi badan dengan usia yang rendah. Sedangkan 7,7 persen balita menderita wasting atau rendahnya rasio berat badan dibandingkan tinggi badan. (CNNIndonesia, 9/7/2023)
Meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, tetapi Indonesia masih berada di bawah standar stunting yang ditetapkan WHO yaitu 20 persen. Persentase stunting saat ini juga masih jauh dari target pemerintah untuk mencapai penurunan tingkat stunting atau gagal tumbuh menjadi 14% pada tahun 2024.
Apa itu Stunting?
Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa postur tubuh pendek pada balita adalah faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Namun, fakta menunjukkan bahwa faktor genetika hanya berpengaruh kecil terhadap kesehatan dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Jadi postur tubuh pendek itu belum tentu stunting, tetapi stunting sudah pasti bertubuh pendek.
Berdasarkan WHO (2015), stunting merupakan gangguan tumbuh kembang anak yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditengarai tinggi badan di bawah standar.
Selanjutnya, menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan tinggi badan kurang dari (-2) standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO menurut usianya, yang disebabkan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang kronik yang terjadi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Bahaya Stunting pada Anak
Masih menurut WHO, dampak yang ditimbulkan dari stunting dibagi menjadi dua, yaitu dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Dampak sunting jangka pendek dapat terlihat dari rendahnya daya tahan tubuh sehingga anak lebih sering sakit. Kemudian perkembangan yang tidak optimal pada kognitif, motorik dan verbal.
Sedangkan dampak stunting dalam jangka panjang meliputi, pertumbuhan postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan umumnya), resiko obesitas, dan penyakit lainnya, serta menurunnya kesehatan reproduksi. Terganggunya perkembangan otak, sehingga prestasi belajar pada masa sekolah tidak optimal yang berpengaruh pada produktivitas kerjanya nanti.
Sehingga stunting bukan hanya masalah tidak berkembangnya tinggi badan saja, tetapi lebih jauh lagi yaitu menurunnya kemampuan belajar anak, keterbelakangan mental, dan munculnya penyakit-penyakit kronis.
Pihak Kementerian Kesehatan pun menegaskan bahwa stunting adalah ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia, karena bukan sekedar mengganggu pertumbuhan fisik tetapi juga mengganggu perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi belajar. Dan stunting bisa menurun pada generasi berikutnya jika tidak ditangani dengan serius.
Penyebab Stunting
Kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang menyebabkan masalah gizi kronis yaitu stunting. Maka perlu diketahui penyebab terjadinya, yaitu:
(1) Kurangnya Asupan Gizi
Tanpa disadari sejak dalam kandungan anak sudah mengalami kekurangan gizi akibat sulitnya akses makanan sehat dan bergizi pada ibu hamil serta rendahnya asupan vitamin dan mineral. Kekurangan gizi sejak dalam kandungan atau malnutrisi janin inilah yang menjadi faktor terbesar penyebab stunting pada anak.
(2) Kurang efektifnya Pola Asuh
Adanya pola asuh yang tidak tepat dalam hal pemberian menu makanan seimbang, sehat, dan bergizi pada bayi dan balita dapat menyebabkan stunting. Tidak hanya itu, ibu yang pada masa remajanya kurang nutrisi, dan kemudian saat kehamilan juga kekurangan nutrisi, ditambah pada masa laktasi atau menyusui yang tidak baik mampu berpengaruh pada tumbuh kembang otak anak.
(3) Kurang Tepatnya Pola Makan
Rendahnya akses akan makanan sehat dan bernilai gizi seimbang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak serta meningkatkan resiko stunting.
(4) Sakit Infeksi Berulang
Bayi atau balita yang mengalami infeksi yang berulang akibat imunitas yang lemah, menjadikan tubuh anak selalu memerlukan energi lebih untuk melawan penyakitnya. Jika hal ini tidak disertai asupan makanan bergizi yang cukup maka anak menjadi kekurangan gizi sehingga berujung stunting.
(5) Buruknya Sanitasi
Sulitnya akses sumber air bersih dan buruknya sanitasi dapat menyebabkan stunting pada anak. Penggunaan air sumur yang tidak bersih untuk masak dan minum serta kurangnya jumlah kakus menjadi faktor penyebab infeksi terbanyak. Kedua hal ini bisa menyebabkan anak menderita diare dan infeksi cacing usus yang berulang.
Kebijakan Kapitalis
Presiden menganggap bahwa stunting adalah masalah besar yang harus segara diatasi karena dapat memengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebuah negara. Apalagi Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam beberapa dekade ke depan.
PricewaterhouseCoopers (PWC), misalnya, memprediksi ekonomi Indonesia termasuk lima besar dunia pada 2030, bahkan diperkirakan berada diposisi ke-4 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050. Hal ini berdasarkan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dianggap stabil dan juga faktor populasi yang besar. Dari komposisi usia penduduk di tahun 2030 nantinya 70 persen penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun, atau berada dalam masa produktif. Komposisi ini disebut sebagai bonus demografi. Kelompok usia produktif yang jumlahnya diperkirakan 180 juta jiwa inilah yang akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Namun, bonus demografi ini akan berubah menjadi mimpi buruk karena tingginya persentase balita dengan stunting di negeri ini. Sedangkan balita-balita ini yang nantinya akan menjadi tenaga produktif tersebut.
Maka untuk mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia, Pemerintah menggelontorkan dana yang tidak sedikit, yaitu sejumlah Rp77 T untuk anggaran sub kegiatan penanganan stunting. Namun, menurut Menkeu, Sri Mulyani, hanya Rp 34 T yang masuk ke mulut bayi dan ibu hamil. Lainnya digunakan untuk kegiatan 'nyeleneh' seperti rapat koordinasi, dan pembangunan pagar puskesmas. (CNNIndonesia, 14/03/2023)
Berbagai kebijakan yang dikeluarkan yang seharusnya bertujuan untuk menangani permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, selalu saja berakhir pada hasil yang tidak optimal. Entah karena data yang tidak tepat sasaran, penyalahgunaan anggaran, pembengkakan anggaran, korupsi, panjangnya birokrasi, maraknya pungli, kesemuanya niscaya terjadi karena sistem kapitalisme yang terus diadopsi oleh negeri ini.
Bahkan tujuan penanganan stunting ini pun berbau kapitalisme. Bukan hanya menjaga keberlangsungan hidup generasi tetapi mencegah hilangnya motor penggerak ekonomi. Generasi ini hanya dijadikan sebagai komponen dari rantai perekonomian dunia.
Islam Menjawab Problem Stunting
Tidak dapat dimungkiri bahwa kemiskinan ekstrem menjadi penyebab paling besar atas tingginya persentasi stunting di negeri ini. Maka saat problem kemiskinan belum dapat diatasi, maka sulit untuk menurunkan persentase stunting itu sendiri. Sedangkan masalah kemiskinan adalah hal yang tidak dapat dihindari pada negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Di mana mereka yang berkuasa akan menekan yang lemah agar tetap berkuasa. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin akan terus berjuang untuk bertahan hidup dengan kemiskinannya.
Berbeda dalam sistem Islam, di mana pemimpin bertanggungjawab penuh terhadap kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Rasa takut pada Pencipta serta kesadaran akan amanah yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah adalah wujud keimanan dan ketakwaan yang tercermin dalam setiap tindakan dan kebijakan yang tidak akan menyelisihi syariat.
Rasulullah saw. Bersabda:
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ، احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ . (رواه أبو داود)
Artinya: “Siapa yang telah dikuasakan oleh Allah untuk memegang sebuah urusan kaum muslimin, kemudian ia menghalangi kepentingan dan kebutuhan mereka, maka Allah akan menghalangi kepentingan dan kebutuhannya.” (Hadis Shahih, Riwayat Abu Dawud: 2559)
Pemimpin dalam Islam akan memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyatnya seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Pemenuhan kebutuhan pokok ini akan diusahakan sendiri tanpa bantuan pihak swasta atau asing.
(1) Ketahanan Pangan
Pemimpin akan memastikan seluruh rakyatnya tidak ada yang kelaparan bahkan terpenuhi kebutuhan gizinya serta memastikan makanan yang tersedia halal dan tayib. Pemimpin akan mewujudkan ketahanan pangan dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian dan perkebunan, mengoptimalkan produksi peternakan dan perikanan, serta meningkatkan industri pengolahan makanan. Semua dimaksimalkan untuk menjamin ketersediaan makanan sehat, halal dan tayib bagi masyarakat. Hal ini juga menjadi upaya pemimpin untuk mencegah terjadinya stunting pada anak.
(2) Pendidikan dan Kesehatan
Pemimpin dalam Islam akan menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan. Keduanya adalah penyokong kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Sehingga setiap keluarga tidak perlu khawatir tidak mampu menyekolahkan anaknya atau tidak mampu berobat karena tidak ada biaya.
(3) Lapangan Pekerjaan
Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan untuk mengentaskan kemiskinan, pemimpin akan membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya. Misalnya memberikan tanah pertanian yang tidak diolah atau dimanfaatkan kepada orang yang mau menghidupkannya. Membuka industri padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Memberikan pinjaman tanpa bunga bagi mereka yang ingin membuka atau mengembangkan usahanya.
(4) Sosialisasi Kesehatan
Saat kesejahteraan rakyat terwujud, maka setiap keluarga tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi gizi keluarganya. Adanya sosialisasi kesehatan dan segala hal yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup manusia mulai dari kandungan hingga lanjut usia adalah salah satu bentuk periayahan pemimpin kepada rakyatnya. Termasuk di dalamnya sosialisasi tentang pola asupan makanan dan pola asuh yang benar juga diberikan untuk menghindari terjadinya stunting pada anak.
(5) Ilmu Pengetahuan
Islam sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dukungan penuh diberikan untuk dunia keilmuan, penelitian dan sains. Termasuk di dalamnya ilmu kesehatan, pertanian, pengolahan pangan, dan bidang keilmuan lainnya sehingga mampu memberikan kontribusi nyata pada penanganan masalah pada masyarakat seperti problem stunting pada anak.
(6) Kesehatan Lingkungan
Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan dan kesucian. Maka masalah kesehatan lingkungan juga akan menjadi perhatian utama termasuk di dalamnya masalah sanitasi. Sanitasi yang tidak memadai pada lingkungan rumah tangga dan industri berpengaruh secara langsung pada kesehatan penduduk. Dengan adanya teknologi sanitasi yang baik maka masyarakat akan terbebas dari berbagai penyakit seperti diare, infeksi usus, dan lainnya, yang bisa menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak.
(7) Infrastruktur
Pemimpin dalam Islam akan membangun infrastruktur hingga ke pelosok daerah. Sehingga tidak akan ada daerah yang sulit untuk dijangkau. Setiap daerah akan berkembang bersama-sama. Tidak ada daerah tertinggal atau terpinggirkan. Karena semua hasil dari keilmuan, pendidikan, kesehatan, teknologi, serta yang paling utama bahan makanan akan terdistribusi dengan merata hingga ke seluruh daerah karena akses yang mudah.
Sumber Pembiayaan
Dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, negara menerapkan sistem ekonomi Islam di mana terdapat tiga konsep kepemilikan yaitu, kepemilikan negara, kepemilikan umum, dan kepemilikan individu. Kepemilikan umum dan negara dikelola oleh negara melalui baitulmal. Sumber dananya berasal dari pembayaran jizyah, fai, kharaj, ghanimah, pengelolaan SDA, dan lainnya. Sedangkan kepemilikan individu diserahkan pada pemiliknya selama tidak bertentangan dengan hukum syarak.
Ada lagi pos zakat yang sumber dananya berasal dari para Muzaki, yaitu orang yang wajib membayar zakat. Zakat ini akan didistribusikan kepada delapan golongan penerima zakat secara terus menerus hingga mereka keluar dari golongan penerima zakat. Adanya pos zakat ini juga memastikan bahwa tidak ada rakyat yang kelaparan karena tidak mampu membeli makanan.
Ditunjang dengan sistem baitulmal yang terpusat tidak memberikan celah untuk penyalahgunaan anggaran dan juga kebocoran anggaran karena adanya pos-pos yang jelas untuk dana masuk dan pendistribusiannya. Sehingga kesejahteraan rakyat bukan sekedar impian yang sulit diwujudkan.
Generasi Gemilang Menjelang
Sistem ekonomi Islam memberikan batasan dalam kepemilikan dan negara memegang peran vital dalam pendistribusian kekayaan. Inilah yang nantinya mampu mengurai kemiskinan. Karena segala potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA), infrastruktur dan perputaran ekonominya akan dioptimalkan demi kesejahteraan rakyat dalam batasan syariat.
Saat kesejahteraan dapat diwujudkan, maka setiap keluarga akan dapat menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi keluarganya termasuk bayi, ibu hamil dan ibu menyusui yang ada di dalam keluarga tersebut.
Adanya kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam bagi remaja putri yang akan mengawal fitrahnya sebagai pencetak generasi sehingga kesadaran untuk menyiapkan, menjaga asupan nutrisi hingga merawat bayi sejak dalam kandungan merupakan wujud dari tanggungjawab kepengasuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Dari ibu-ibu terdidik taat syariat inilah yang nantinya muncul generasi-generasi sehat bebas stunting. Generasi cemerlang yang mampu memberikan kontribusi terbaiknya pada dunia. Generasi gemilang yang mampu menyebarkan risalah Islam keseluruhan penjuru dunia. Wallahualam bissawab.
