Negeriku Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Kolonisabilitas Masyarakat Makin Menjadi



Sungguh kondisi yang sangat menyedihkan pada negeri muslim terbesar di dunia, kaya akan SDA hidup dalam sengsara


Oleh : Hawilawati

(Muslimah Permata Umat) 


..... 

Dengan bonus demografi yang tinggi, wilayah daratan dan perairan yang sangat luas, sumber kekayaan alam (SDA) yang melimpah ruah, bahkan tak diragukan lagi besarnya daya juang masyarakat untuk bisa  bertahan hidup dan sifat asli gotong royong  yang dimilikinya. 


Semua adalah potensi bangsa yang seharusnya menjadi modal besar untuk menjadikan bangsa ini mandiri.


Namun, realitanya negeri ini masih berada dalam garis kemiskinan, stunting, kriminalitas, kebodohan dan kekerasan terhadap anak, bahkan eksploitasi wanita menjadi pekerja di negeri luar.


Episode demi episode problematika bangsa ini hadir bukan tanpa sebab dan tujuan, melainkan terus diciptakan, dikembangkan dan dipelihara. 


Sebagaimana dikutip dalam  buku  "Menantikan Sang Pembebas" dengan kekuatan analisa politik  brilian Dr. Fika Komara, seorang aktivis Muslimah dan Geostrategis, membuka cakrawala berfikir bahwa kolonisabilitas adalah sebuah kondisi masyarakat yang rentan dan sangat available untuk dijajah.


Kolonisabilitas berasal dari Bahasa Perancis  yakni colonisabilite yaitu kondisi yang menjadikan orang atau masyarakat dapat didominasi orang lain atau bangsa lain. 


Untuk mempertahankan kondisi tersebut, Kolonialis menciptakan pelbagai mitos dan gagasan, yang  terus diproduksi dan disebarluaskan di masyarakat. 


Adapun terdapat dua kondisi krusial umat Islam dari kondisi kolonisabilitas, yaitu :

1. Ketidakmampuan untuk berpikir (to think) dan mengambil tindakan (to act), lemah bahkan hilangnya kemampuan mengkaitkan antara berpikir dan mengkonkretkan pemikiran, sehingga menghasilkan kebingungan. 


2. Problem "serampangan" meminjam dari peradaban modern. Terlalu banyak meminjam bahkan mengadobsi ide-ide modern serampangan tanpa filter dari pandangan Islam, alhasil berimbas pada kualitas intelektual, moral dan politik umat. 


Alhasil, dua hal kelemahan terbesar yang ada pada masyarakat inilah yakni lemahnya kemampuan intelektual cemerlang berdasarkan Islam dan spiritual masyarakat mengantarkan pada lemahnya respons masyarakat, tidak mampu membaca situasi dan segala bentuk agenda kolonial dalam menjajah negerinya. Dengan kata lain tidak menyadari dengan  proyek penjajah yang dikemas manis dan cantik, tapi sejatinya adalah sebagai proses melemahkan masyarakat agar negerinya available dikuasai. Bahkan segala kebijakan yang terus diusung oleh negeri-negeri penjajah terhadap pemimpin umat Islam, sebagai bentuk tindakan untuk melanggengkan kolonisabilitas. 


Begitu banyak wilayah strategis, dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah dan menggiurkan, terdapat ketimpangan yang curam antara pembangunan ekonomi VS pembangunan manusia. 


Masyarakat di kondisikan berada dalam pendidikan yang tertinggal, hingga  kesadaran geopolitikpun terus dilemahkan, membuat oligarki berhasil membuat dinding besar antara potensi kekayaan alam yang besar dengan daya nalar masyarakat. 


Seperti halnya kondisi penduduk di Papua, tanah yang kaya dengan emasnya, angka kemiskinan per September 2022 naik menjadi 26,80 (papua.bps.go.id) 


Adapun kasus kekerasan yang terjadi di Papua Barat  secara umum (kekerasan anak, perempuan atau seksualitas) masih sangat tinggi, tercatat 586 kasus per Juni 2023  (databoks.katadata.co.id


Sehingga, ketika kekayaan alamnya di eksploitasi habis-habisan oleh kaum kapital, masyarakat bingung mau berbuat apa. 


Ironisnya, kaum intelektual dan tokoh adat setempat di buat membisu dengan kompensasi materi yang sangat rendah. Para pembuat kebijakan terus dilibatkan dalam proyek - proyek besar mereka, namun hanya sebagai regulator kepentingan kolonial, dengan kompensasi yang  tak sebanding. 


Bahkan media-media lebih mendukung perbuatan oligarki dengan rendahnya intensitas berita lokal terutama praktik korporasi asing mengeksploitasi SDA setempat dengan rendahnya narasi analisis politik Islam. 


Sungguh miris Jika pembangunan yang berdiri kokoh,  infrastruktur yang staretgis dan didukung dengan teknologi canggih sebagai media penyebaran Informasi yang cepat dan efektif, namun masyarakat masih berada dalam kondisi kegelapan, ke tidaktahuan, bahkan tidak ingin tahu, meskipun berada dalam kungkungan ketamakan kaum kolonialis. Inilah jahiliyah Era modern, buta membaca politik yang di lancarkan kolonial. 


Sejatinya Islam hadir, untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahiliyahan dalam berpikir dan berbuat. 


Era terpuruknya intelektual manusia terhapuskan dengan ajaran dan ide-ide Islam yang berdasarkan aqidah Islam. Sebab, ajaran Islam yang syamil sesuai fitrah dan sunnatullah. 

Mampu mencerdaskan manusia, memuaskan akal, menentramkan jiwa. 

Islam tak hanya sekedar bagaimana mampu bertahan hidup  tetapi juga memiliki nilai-nilai preventif, solutif bahkan kuratif. 


Politik Islam (Siyasah Islam) adalah Riayah Syu'un Al-Ummah (mengurusi segala urusan umat). Urusan umat ada dalam seluruh aktivitas, baik itu terkait masalah primer (sandang, pangan, papan), pendidikan, kesehatan, sosial budaya, pertahanan dan keamanan negeri, serta politik luar negerinya. 


Mampu berpikir politik Islam merupakan hak bagi setiap diri Muslim yang  dilakukan dengan proses berpikir talqiyan fikkriyyan yaitu kemampuan mengkaitkan antara fakta melalui penginderaan  dengan  maklumat tsabiqoh (maklumat awal) yang benar berdasarkan aqidah Islam, sehingga akan menghasilkan sebuah konsep berpikir politis yang benar. 


Dengan kemampuan berpikir cemerlang maka akan menghantarkan masyarakat menuju sebuah kebangkitan berpikir. 


Sebagai contoh dalam hal pendidikan, Islam memberikan hak cerdas dan belajar bagi setiap warganya, tanpa memandang perbedaan usia, gender, suku maupun agama. 


Sebab, Islam memiliki perintah menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Bahkan setiap diri Muslim diwajibkan mempelajari ilmu syar'i (agama). Sehingga negara akan mengusahakan dengan segala daya dan keseriuasannya  berupaya mencerdaskan rakyatnya. 


Adapun misi pendidikan Islam adalah tidak hanya sekedar mencerdaskan tapi juga mensholihkan jiwa rakyatnya, terlihat tidak adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam kurikulum pendidikannya. 

Orientasi pendidikan tidak hanya duniawi saja tapi ukhrowi. Kelak, manusia mampu mempertanggungjawabkan dirinya dihadapan Tuhan. 


Sehingga, jika saat ini masih didapati banyak manusia berada dalam kebodohan sebab tidak memiliki kesempatan belajar yang baik dan rusak prilakunya adalah sebuah kegagalan negara menerapkan politik dalam sektor pendidikannya. 


Pun dalam sektor ekonomi, salah satunya adalah kebijakan mengelola kekayaan alam. kekayaan alam yang melimpah ruah (SDA) adalah milik orang banyak (rakyat) bukan milik segelintir orang atau korporasi yang dapat menghambat orang lain untuk menikmati haknya. 


Hal ini didasarkan dengan hadits Rasulullah Saw: "Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api" (HR. Abu Dawud).


Air (mata air, sungai, laut, dan kekayaan perairan lainnya ), padang rumput (hutan, pulau, dan kekayaan daratan lainnya) serta api (batu bara, gas bumi, minyak dan bahan bakar lainnya) yang jumlahnya banyak, secara syariat asal pemiliknya adalah rakyat . 


Agar rakyat bisa menikmati hartanya secara merata dan tercipta kesejahteraan, maka negara yang akan  mengelolanya langsung, tidak diserahkan kepada kaum kapital baik swasta atau asing. Sehingga jika terjadi praktik monopoli yang dilakukan oleh korporasi, itu tiada lain sebagai bentuk kegagalan politik negara dalam ekonomi, khususnya dalam pengelolaan SDAnya.


Begitu banyak pengabaian urusan rakyat, sebab politik Islam ditinggalkan, dan lebih percaya dengan politik kolonial dengan ide-idenya yang rusak, yang justru membuat persoalan rakyat  semakin meradang menjadi-jadi semakin menyengsarakan. 


Sudah seharusnya kita umat Islam  membangun kesadaran, yang harus diselamatkan dengan pemikiran Islam cemerlang dalam politiknya. Pun agar kolonisabilitas tidak semakin leluasa bertindak masif sesukanya. Wallahu'alam bishowwab

Name

Analisis,4,Motivasi,2,Nasional,4,Opini,163,Polri,17,Puisi,1,Sumbar,25,Surat Pembaca,6,TEENAGER,1,TNI,50,
ltr
item
TV Negeri: Negeriku Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Kolonisabilitas Masyarakat Makin Menjadi
Negeriku Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Kolonisabilitas Masyarakat Makin Menjadi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrTpmzjohxMWOhUr2EAujEYt2w4Ivq2l_Fy2Z5wYNTcR2Um89OCNLCiFI4384RxLQenLZPduIWqemQhemDfwjL5a0HYHhAEMyghTv6kRQb1VJRUxapJTM8fdOfdxfYtlCUK1WH_pmSbQqBrhulkgbr9oxinK1QO2Yn7myeAdrUx1LOivReQbNLNAGiB8s9/s320/IMG-20230730-WA0025.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrTpmzjohxMWOhUr2EAujEYt2w4Ivq2l_Fy2Z5wYNTcR2Um89OCNLCiFI4384RxLQenLZPduIWqemQhemDfwjL5a0HYHhAEMyghTv6kRQb1VJRUxapJTM8fdOfdxfYtlCUK1WH_pmSbQqBrhulkgbr9oxinK1QO2Yn7myeAdrUx1LOivReQbNLNAGiB8s9/s72-c/IMG-20230730-WA0025.jpg
TV Negeri
https://tv-negeri.blogspot.com/2023/07/negeriku-sedang-tidak-baik-baik-saja.html
https://tv-negeri.blogspot.com/
https://tv-negeri.blogspot.com/
https://tv-negeri.blogspot.com/2023/07/negeriku-sedang-tidak-baik-baik-saja.html
true
8903722848118040034
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content